?

Log in

Previous 10

Jun. 16th, 2008

Hubbert Peak Oil Theory

Dengar teori ini dari acara Perspektif Wimar. Pertama-tama, kurang jelas, norbert-kah, nobert kah, ternyata yang betul itu adalah Hubbert.

Siapakah Mr.Hubbert ini, dan apa itu teori Peak Oil-nya?

Nama lengkapnya Marion King Hubbert (5 Oktober 1903 - 11 Oktober 1989), adalah seorang ilmuwan geologi yang bekerja di laboratorium penelitian di Shell, Houston, Texas, USA. Teori Peak Oil pertama kali dikemukakan olehnya tahun 1956, dalam sebuah jurnal ilmiah.

Intinya, isi jurnalnya mengemukakan bahwa peng-eksplorasian minyak bumi yang terus-menerus dapat mengakibatkan habisnya sumber daya energi tersebut.

Kalo diinget-inget lagi, dulu pelajaran SD, kita diajarkan bahwa fosil dinosaurus yang hidup puluhan juta tahun lalu, mengendap di permukaan bumi dan melalui proses kimiawi selama berjuta-juta tahun, berubah menjadi minyak bumi. Sedangkan fosil tumbuh-tumbuhan yang hidup puluhan juta tahun yang lalu mengendap menjadi batu bara.

Hmm, berhubung dinosaurus itu hidup pada masa tertentu, berarti ada jumlah tertentu fosil dinosaurus yang terkubur di bawah permukaan bumi, berarti minyak bumi itu ada batas jumlahnya juga. Pengesploitasian minyak bumi besar-besaran dapat mengakibatkan percepatan habisnya minyak bumi. Ya iyalah, masa ya iya dong.

Peak oil theory mengemukakan bahwa eksploitasi besar-besaran akan dilakukan di sekitar tahun 2000, setelah tahun 2000, produksi akan menurun (inilah yang mengakibatkan naiknya harga minyak di dunia). Dan jika tidak direm dengan segera, makan tahun 2200, yang namanya minyak bumi hanya tinggal kenangan.

Sebenarnya agak aneh, kalau mau dipikir-pikir, jurnal ini sudah diterbitkan tahun 1956 (44 tahun sebelum tahun 2000). Tapi kenapa sepertinya tidak ada yang menggubris. Sebaliknya, perusahaan produsen minyak terus memperluas daerah pengeborannya, seperti Shell, Conoco, dll.

Yang paling menyebalkan dari semuanya adalah, seharusnya dapat dilakukan tindakan pencegahan sebelum hal ini terjadi. Namun, kalau sudah seperti saat ini, sepertinya harus secepat mungkin dilakukan tindakan pengobatan.

Oia, dari hasil penelitian dikatakan bahwa yang paling banyak menggunakan minyak olahan bumi adalah sektor transportasi. Jadi sepertinya, memang mau tidak mau, kita harus mulai berpikir mengenai sumber energi lain. Terdengar berita mengenai Djoko dengan blue energy-nya. Hmm, sebenarnya tidak tepat bila dikatakan air adalah sumber energi berikutnya. Karena air suatu saat akan habis, jika kita tidak berhati-hati menggunakannya.

Saya justru berpikir, kenapa kita tidak menggunakan matahari. Matahari adalah sebuah bintang yang walaupun sudah sangat tuir, namun fase-nya masih jauh dari fase bintang mati (black hole). Toh, sudah ada pembangkit listrik tenaga surya. Apalagi, negara Indonesia adalah negara tropis, yang terletak di khatulistiwa, hanya mengenal dua musim, musim hujan dan musim kemarau. Kenapa tidak dikembangkan lebih lanjut mobil dengan tenaga surya, motor dengan tenaga surya. Tapi pengembangan lebih lanjutnya adalah dengan menyediakan baterai yang dapat diisi ulang dengan tenaga surya. Sehingga bisa digunakan sampai malam.

Iya toh??

Mungkin selanjutnya, saya akan menterjemahkan jurnal Mr. Hubbert. Kalau ada waktu dan masih ada minat.
Tags:

Jun. 13th, 2008

Quotes & Its Translation (will be updated later)

We do not stop playing because we are old; we grow old because we stop playing.

[Kita tidak berhenti bermain karena kita sudah tua, kita tua karena kita berhenti bermain.]

Have no regrets. The elderly usually don't have regrets for what we did, but rather for things we did not do.

[Jangan pernah menyesal. Orang yang sudah tua tidak pernah menyesal tentang hal yang mereka lakukan, namun tentang hal yang tidak mereka lakukan.]

GROWING OLDER IS MANDATORY, GROWING UP IS OPTIONAL.

[Menjadi tua adalah sebuah kepastian, menjadi dewasa adalah sebuah pilihan.]

I like who I am as a person. And because I believe that there's much more to me than my looks, other people believe it too.—Felicia P. Fields

[Aku menyukai diriku sendiri. Dan karena aku percaya bahwa ada lebih banyak lagi hal tentang diriku selain penampilanku, orang lain juga akan mempercayainya juga.]
   
Joy is the best makeup.—Anne Lamott   

[Kebahagiaan adalah make-up terbaik.]

Never lose an opportunity of seeing anything that is beautiful; for beauty is God's handwriting.—Ralph Waldo Emerson

[Jangan pernah hilangkan kesempatan untuk melihat segala sesuatu yang indah; karena keindahan adalah tulisan tangan Tuhan.]

...it is always the simple that produces the marvelous.—Amelia E. Barr

[Hal-hal sederhana-lah yang mengagumkan.]

But the most important lesson is to bring beauty to your attitude.—Dixie Carter

[Pelajaran yang terpenting adalah untuk membawa keindahan dalam perilaku.]

Each thing in its way, when true to its own character, is equally beautiful.—Edward Abbey

[Segala sesuatu dengan caranya sendiri, saat sesuai dengan karakternya, memiliki keindahan.]


My beauty comes from having my own style, living my own way and knowing my own mind.—Lee Damsky

[Keindahanku datang dari caraku menjalani hidup dengan gayaku, caraku, dan mengetahui pikiranku sendiri.]

Though face and form alter with the years, I hold fast to the pearl of my mind.—Han-shan

[Walaupun wajah dan bentuk akan rusak oleh waktu, aku tetap menggenggam mutiara pikiranku.]

No matter what our age or condition, there are still untapped possibilities within us and new beauty waiting to be born. —Dale E. Turner



The beauty that addresses itself to the eyes is only the spell of the moment; the eye of the body is not always that of the soul.
—George Sand

...we spend far too much time and energy contemplating our inadequacies. We forget that we are all perfect in our imperfection.—Kate Dillon   

"This body I know loves to lie stretched on its side, reading... This body I live inside loves to burst into a sprint to retrieve my wallet from the car. To tease the dog with a romp. To dance when no one is home..." -- Meredith Hall

[Tubuh yang kukenal ini senang berbaring sambil membaca...Tubuh yang didalamnya aku hidup senang untuk ]

"I want to express my age and be authentic. Why do so many people follow somebody else's idea of what is attractive?" --Diane Keaton

[Aku ingin mengekspresikan usiaku dan menjadi otentik. Mengapa begitu banyak orang mengikuti ide orang lain akan suatu hal yang menarik]

Jun. 11th, 2008

Indonesian Declaration of Independence vs American Declaration of Independence


Entah kenapa tiba-tiba topik ini ter-pop up di pikiran saya. Saya bukanlah seorang yang tergila-gila dengan USA, ataupun terikut-ikut dalam budaya asing (westernization). Setiap budaya pasti ada segi positif dan segi negatifnya, bukan? Jadi, pilihlah segi positif dari budaya asing, bila memang hal itu baik, dan bisa meningkatkan kualitas diri kita.

Berawal dari film "National Treasure", saya merasa tertarik untuk membaca lebih jauh dan secara mendetil isi dari Deklarasi Kemerdekaan Amerika.

***
In Congress, July 4, 1776

The unanimous Declaration of the thirteen united States of America


When in the Course of human events, it becomes necessary for one people to dissolve the political bands which have connected them with another, and to assume among the powers of the earth, the separate and equal station to which the Laws of Nature and of Nature's God entitle them, a decent respect to the opinions of mankind requires that they should declare the causes which impel them to the separation.

We hold these truths to be self-evident, that all men are created equal, that they are endowed by their Creator with certain unalienable Rights, that among these are Life, Liberty and the pursuit of Happiness. That to secure these rights, Governments are instituted among Men, deriving their just Powers from the consent of the governed, -- That whenever any Form of Government becomes destructive of these ends, it is the Right of the People to alter or to abolish it, and to institute new Government, laying its foundation on such principles and organizing its powers in such form, as to them shall seem most likely to effect their Safety and Happiness. Prudence, indeed, will dictate that Governments long established should not be changed for light and transient causes; and accordingly all experience hath shewn, that mankind are more disposed to suffer, while evils are sufferable, than to right themselves by abolishing the forms to which they are accustomed. But when a long train of abuses and usurpations, pursuing invariably the same Object evinces a design to reduce them under absolute Despotism, it is their right, it is their duty, to throw off such Government, and to provide new guards for their future security -- Such has been the patient sufferance of these Colonies; and such is now the necessity which constrains them to alter their former Systems of Government. -- The history of the present King of Great Britain is a history of repeated injuries and usurpations, all having in direct object the establishment of an absolute Tyranny over these States. To prove this, let facts be submitted to a candid world.

[Mulai mengajukan fakta-fakta yang menunjukkan kekuasaan tirani Inggris di koloni Amerika]

He has refused his Assent to Laws, the most wholesome and necessary for the public good. [Menolak "Hukum untuk kebaikan umum"]

He has forbidden his Governors to pass Laws of immediate and pressing importance, unless suspended in their operation till his Assent should be obtained; and when so suspended, he has utterly neglected to attend to them.
He has refused to pass other Laws for the accommodation of large districts of people, unless those people would relinquish the right of Representation in the Legislature, a right inestimable to them and formidable to tyrants only.
He has called together legislative bodies at places unusual, uncomfortable, and distant from the depository of their Public Records, for the sole purpose of fatiguing them into compliance with his measures.
He has dissolved Representative Houses repeatedly, for opposing with manly firmness his invasions on the rights of the people.
He has refused for a long time, after such dissolutions, to cause others to be elected; whereby the Legislative Powers, incapable of Annihilation, have returned to the People at large for their exercise; the State remaining in the mean time exposed to all the dangers of invasion from without, and convulsions within.
He has endeavoured to prevent the population of these States; for that purpose obstructing the Laws for Naturalization of Foreigners; refusing to pass others to encourage their migrations hither, and raising the conditions of new Appropriations of Lands.
He has obstructed the Administration of Justice, by refusing his Assent to Laws for establishing Judiciary Powers.
He has made Judges dependent on his Will alone, for the tenure of their offices, and the amount and payment of their salaries.
He has erected a multitude of New Offices, and sent hither swarms of Officers to harrass our People, and eat out their substance.
He has kept among us, in times of peace, Standing Armies without the Consent of our legislatures.
He has affected to render the Military independent of and superior to the Civil Power.
He has combined with others to subject us to a jurisdiction foreign to our constitution, and unacknowledged by our laws; giving his Assent to their Acts of pretended Legislation:
For Quartering large bodies of armed troops among us:
For protecting them, by a mock Trial, from Punishment for any Murders which they should commit on the Inhabitants of these States:
For cutting off our Trade with all parts of the world:

[Inget the Boston Tea Party, pelajaran Sejarah SMU kalo ndak salah]

For imposing Taxes on us without our Consent:

For depriving us in many cases, of the benefits of Trial by Jury:
For transporting us beyond seas to be tried for pretended offences:
For abolishing the free system of English Laws in a neighbouring Province, establishing therein an Arbitrary government, and enlarging its Boundaries so as to render it at once an example and fit instrument for introducing the same absolute rule into these Colonies:
For taking away our Charters, abolishing our most valuable Laws, and altering fundamentally the forms of our Governments:
For suspending our own Legislature, and declaring themselves invested with power to legislate for us in all cases whatsoever.
He has abdicated Government here, by declaring us out of his Protection and waging War against us.
He has plundered our seas, ravaged our Coasts, burnt our towns, and destroyed the lives of our people.
He is at this time transporting large Armies of foreign Mercenaries to compleat the works of death, desolation and tyranny, already begun with circumstances of Cruelty and perfidy scarcely paralleled in the most barbarous ages, and totally unworthy the Head of a civilized nation.
He has constrained our fellow Citizens taken Captive on the high Seas to bear Arms against their Country, to become the executioners of their friends and Brethren, or to fall themselves by their Hands.
He has excited domestic insurrections amongst us, and has endeavoured to bring on the inhabitants of our frontiers, the merciless Indian Savages, whose known rule of warfare, is an undistinguished destruction of all ages, sexes and conditions.
In every stage of these Oppressions we have Petitioned for Redress in the most humble terms: Our repeated Petitions have been answered only by repeated injury. A Prince, whose character is thus marked by every act which may define a Tyrant, is unfit to be the ruler of a free people.
Nor have we been wanting in attention to our British brethren. We have warned them from time to time of attempts by their legislature to extend an unwarrantable jurisdiction over us. We have reminded them of the circumstances of our emigration and settlement here. We have appealed to their native justice and magnanimity, and we have conjured them by the ties of our common kindred to disavow these usurpations, which, would inevitably interrupt our connections and correspondence. They too have been deaf to the voice of justice and of consanguinity. We must, therefore, acquiesce in the necessity, which denounces our Separation, and hold them, as we hold the rest of mankind, Enemies in War, in Peace Friends.
We, therefore, the Representatives of the united States of America, in General Congress, Assembled, appealing to the Supreme Judge of the world for the rectitude of our intentions, do, in the Name, and by Authority of the good People of these Colonies, solemnly publish and declare, That these United Colonies are, and of Right ought to be Free and Independent States; that they are absolved from all Allegiance to the British Crown, and that all political connection between them and the State of Great Britain, is and ought to be totally dissolved; and that as Free and Independent States, they have full Power to levy War, conclude Peace, contract Alliances, establish Commerce, and to do all other Acts and Things which Independent States may of right do.
And for the support of this Declaration, with a firm reliance on the protection of Divine Providence, we mutually pledge to each other our Lives, our Fortunes and our sacred Honor.
[Signatures Omitted] ***

Panjang ya isinya? Hehehe, tapi isinya terstruktur, akurat, seperti layaknya tulisan ilmiah yang sedang dilombakan. Seperti ada dasar teori, permasalahan, solusi terbaik yang dapat diberikan, alasan pendukung solusi terbaik itu.

Secara umum dikemukakan, tindakan tirani apa yang telah terjadi, dan tindakan tersebut sudah menyengsarakan banyak orang. Dan hal tersebut menjadi motivasi bagi mereka yang tersiksa untuk bangkit dan melakukan perlawanan. Perlawanan ini dilakukan dengan cara memutuskan ikatan politis dengan Kerajaan Inggris dan memutuskan untuk menjadi negara yang bebas dan independen.
Namun, tidak sampai disitu, coba lihat bagian berikut:
"But when a long train of abuses and usurpations, pursuing invariably the same Object evinces a design to reduce them under absolute Despotism, it is their right, it is their duty, to throw off such Government, and to provide new guards for their future security"
Pada satu kalimat tersebut, timbul kesan bahwa Pemerintah bukanlah kekuasaan absolut. Apabila didapati pemerintah bertindak sewenang-wenang terhadap rakyatnya, maka adalah suatu kewajiban, tugas bagi setiap orang Amerika untuk menjatuhkan pemerintahan yang ada, demi keamanan masa depan mereka.

Menurut saya, what a brilliant idea. Bahwa pemerintahan bukanlah sesuatu yang bersifat absolut, melainkan kesejahteraan banyak oranglah yang paling penting.
Setelah dipikir-pikir, bagi Bangsa Indonesia, hal ini sudah dicantumkan secara lengkap dalam UUD 1945, yang menjadi dasar pengelolaan Negara Kesatuan Republik Indonesia, demi kepentingan Bangsa Indonesia.
Sekarang giliran Deklarasi Kemerdekaan Indonesia

***P R O K L A M A S I

Kami bangsa Indonesia dengan ini menjatakan kemerdekaan

Indonesia.

Hal-hal jang mengenai pemindahan kekoeasaan d.l.l., di-

selenggarakan dengan tjara seksama dan dalam tempo jang se-

singkat-singkatnja.


Djakarta, hari 17 boelan 8 tahoen '05
Atas nama bangsa Indonesia.

Soekarno/Hatta.

(tanda tangan Soekarno)

(tanda tangan Hatta)
***

Adakah anda lihat sesuatu yang berbau keadilan disitu? Tidak. Hanya dua kata yang penting dan perlu digaris bawahi "pemindahan kekuasaan". Mungkin itu sebabnya mengapa semua orang berebut kekuasaan di Indonesia.

Kenapa tidak disinggung sama sekali tentang penjajahan, atau penyiksaan dan penyengsaraan yang dilakukan bangsa asing di Indonesia? Okay, mungkin hal ini terlihat seperti membuat tiruan dari deklarasi kemerdekaan bangsa lain. Tapi satu hal yang menyedihkan bagi saya adalah tujuan Proklamasi itu adalah untuk membebaskan Bangsa Indonesia dari penjajahan dan menyejahterakan Bangsa Indonesia. Namun, mengapa hal tersebut tidak dicantumkan.

Perihal kesejahteraan Rakyat Indonesia hanya disinggung pada paragraf terakhir Pembukaan Undang-Undang Dasar 1945. Namun, saya ragu apakah Bapak-Bapak yang berjas dan berdasi dengan perut buncit dan duduk terkantuk-kantuk di kursi empuk dan ruangan ber-AC itu masih bisa mengingat dengan jelas isi Undang-Undang Dasar 1945?

Mungkin seharusnya Tung Desem Waringin tidak perlu menyebarkan uang IDR 100 Juta dari helikopter, seandainya uang IDR 100 Juta itu dipakai untuk membuat salinan UUD 1945, dan menyebarkannya dari atas helikopter di seluruh penjuru Indonesia, saya percaya hal itu akan lebih bermanfaat, dan siapa tahu bisa membuka hati nurani Bapak dan Ibu yang katanya Wakil Rakyat untuk lebih memperhatikan rakyat kecil.
Tags: ,

Jun. 9th, 2008

FPI vs Ahmadiyah .. to ... Privatisasi BUMN

FPI vs Ahmadiyah

Hmm, termasuk "hot stuff" di Indonesia sekarang ini, especially di Ibukota. Setelah melakukan penyerangan berbekal bambu pada Perayaan Kebangkitan Pancasila 1 Juni 2008 di Monas. Banyak yang mengutuk, banyak yang mendukung, banyak opini deh pokoknya.
Bahkan saat saya menuliskan hal ini, harus berhati-hati terhadap pemilihan kata, takut menyinggung orang dan bikin orang sakit hati.

Sebenarnya sudah lama ingin menulis tentang hal ini, tapi berhubung emosi masih menyala dan kepala dingin belum datang, akhirnya harus menunggu sampai emosi reda, dan kepala lebih dingin. Ada banyak versi (yang beredar di masyarakat) mengenai kejadian tersebut:

1. Gerakan FPI tersebut diboncengi oleh kekuatan asing yang tidak menginginkan adanya kedamaian di bumi Indonesia, such as USA.

Sejujurnya saya katakan, saya tidak punya bukti untuk hal ini. Jadi tolong jangan jadikan kalimat tersebut sebagai fakta. Logikanya adalah jika pihak FPI sudah mengetahui bahwa diantara mereka sudah ada penyusup yang dikirimkan oleh pihak asing, maka sewajarnya, para pemimpin FPI tidak termakan dengan hasutan ini dan melakukan tindak kekerasan.

2. Gerakan FPI tersebut diboncengi oleh pemerintah untuk menarik perhatian masyarakat dari kenaikan BBM.

Untuk hal ini pun, saya tidak memiliki buktinya. Entah benar, entah tidak, tidak ada seorang pun yang mengetahuinya (apalagi saya, yang nota bene cuman warga negara biasa). Tapi kalaupun hal ini benar, maka sewajarnya, para pemimpin FPI tidak termakan dengan hasutan ini dan melakukan tindak kekerasan.

3. Gerakan FPI tersebut sudah disusupi oleh Ahmadiyah, yang bertujuan agar FPI dibubarkan.

Terlebih hal ini, maka pemimpin FPI juga seharusnya menyadari hal ini bukan?

Terlepas dari hal-hal siapa yang memboncengi siapa, ada beberapa hal sederhana yang perlu kita pikirkan baik-baik. Inilah beberapa hal yang saya ingin katakan...

Semua orang (terlepas dari apa agamanya, suku bangsanya, dll) memiliki kedudukan yang sama di mata hukum.
Ketika terjadi penangkapan anggota dan pimpinan FPI, mari kita simak adakah mereka dikenai sanksi karena mereka memiliki keyakinan beragama? Tidak, mereka diadili karena tindakan kekerasan yang mereka lakukan. Tidak pernah pihak polisi mengaitkan dengan keyakinan seseorang.

Posisi pemimpin itu sama seperti posisi orang tua. Sering kan kita dengar, komentar seperti ini, "Ih, si Budi anaknya rajin, pintar, ranking di kelas, sopan, dll". Kaum orang tua, terutama Bapak dan Ibu Budi tentu dengan bangga bilang, "Iya dong, anak siapa dulu."
Pengikut layaknya sebagai anak, dan pemimpin adalah orang tuanya. Jika pengikutnya baik, maka pemimpinnya juga akan mendapatkan citra yang baik. Jika pengikutnya buruk, maka pemimpinnya akan mendapatkan citra yang buruk.
Posisi pemimpin bukanlah posisi yang enak. Bila kita telusuri sejarah, banyak pejuang Indonesia yang notabene adalah pemimpin organisasi pergerakan untuk kemerdekaan Indonesia, justru mereka yang ditangkap. Jadi, saya salut dengan Habib Rizieq Shihab yang tidak melawan ketika dilakukan penangkapan. Sebaliknya, ia mengayomi pengikutnya untuk jangan melakukan perlawanan.
Saya tidak akan menghakimi siapa pemimpin yang benar, siapa pemimpin yang tidak benar. Saya hanya tahu, menurut saya, pemimpin yang benar adalah pemimpin yang:
1. berkepala dingin (tidak cepat emosi)
2. sabar
3. mampu melihat keadaan (dapat memberikan solusi yang terbaik bagi organisasi dan pengikutnya
4. dan masih banyak lagi yang lainnya...

Maksud saya, jika memang FPI merasa bahwa Ahmadiyah itu adalah ajaran sesat dan seharusnya tidak boleh diakui di Indonesia. Maka cara terbaik bukanlah dengan "membunuh semua anggota Ahmadiyah" atau "melakukan kekerasan terhadap anggota Ahmadiyah".
Melainkan, anda semua, anggota FPI saling bekerja sama, bahu membahu, mengajarkan kepada masyarakat mengapa Ahmadiyah dikatakan ajaran sesat. Para pemimpin FPI hendaknya mengajari pengikut FPI untuk memberitahukan kepada masyarakat, tentang ajaran Islam sesungguhnya. Dengan demikian, masyarakat akan sadar dan dengan sendirinya Ahmadiyah tidak akan berdiri (karena sudah jelas tidak memiliki pengikut). Bukan dengan kekerasan, main pukul pakai tangan ataupun bambu.
Carilah solusi yang terbaik untuk semua pihak. Apakah FPI yakin bahwa 14 orang korban kekerasan di Monas adalah anggota Ahmadiyah? Bagaimana jika mereka bukan orang Ahmadiyah, tidakkah anda merasa bersalah atas luka yang mereka derita?

Ingat, badai dan angin yang kuat mampu menumbangkan pohon besar yang kuat, namun bambu yang lemah gemulai malah mengikut arah angin dan mampu bertahan. Kekerasan jika dilawan dengan kekerasan tidak akan menghasilkan apa-apa. Tapi lawanlah dengan kecerdikan dan kelemahlembutan. Karena seperti yang teman saya, Ardho, katakan Islam itu penuh damai. Berarti dalam segala keadaan tunjukkanlah kedamaian itu, dan kedamaian tidak dapat dicerminkan dari tindakan yang kasar dan membabi buta.

--end-- (Mungkin dilanjutkan, mungkin tidak, tergantung ide dan pemikiran)

Privatisasi BUMN

Saya baca di surat kabar, bahwa pemerintah berencana untuk melakukan privatisasi BUMN. BUMN yang sudah mengalami privatisasi ini antara lain Indosat dan BRI.

Privatisasi Indosat

IPO (Initial Public Offering) saham Indosat, yang di beli oleh Temasek, perusahaan investasi pemerintah Singapura.
Sedikit informasi tentang Temasek, CEO-nya seorang wanita, namanya Ho Ching, istri dari Perdana Menteri Singapura. Didaulat sebagai wanita paling berpengaruh di dunia nomor 3, setelah Angela Merker-kanselir Jerman di peringkat pertama, dan Wu Yi-vice premier  RRC di peringkat ke dua(premier sama artinya dengan prime minister). Ho Ching berhasil menaikkan laba Temasek dari US$ 80 billion menjadi US$ 108 billion. Walaupun Temasek didenda oleh Pemerintah Indonesia karena memiliki saham yang cukup besar di dua perusahaan telekomunikasi Indonesia (Telkomsel dan Indosat), namun sepertinya tidak berpengaruh besar terhadap pendapatan Temasek.
(Pyuh, what a brillian woman)

Dikatakan, Pemerintah Indonesia merugi dari privatisasi Indosat, tidak seperti privatisasi BRI yang menguntungkan Pemerintah Indonesia.
Saya agak kebingungan disini, sepertinya Pemerintah sedang mencari banyak keuntungan, dari penarikan subsidi BBM, privatisasi BUMN, namun masih saja dikatakan keuangan negara selalu minus, dan harus mencari hutang kiri-kanan-depan-belakang untuk menutupi perbelanjaan negara.

Dan belakangan pemerintah ingin melakukan privatisasi BUMN, yaitu Krakatau Steel, yang sudah lama diincar oleh Laksmi Mitthal. Laksmi Mitthal adalah pemilik Mittal Steel Company, perusahaan produsen baja terbesar di dunia.

Ada pihak yang mengatakan bahwa Pemerintah Indonesia terkesan ingin mencari dana untuk Pemilu. Entah benar, entah tidak.
Terus terang, saya tidak tahu ada politik apa dibalik semua itu. Terlalu besar semua itu untuk pikiran saya yang kecil ini.

Saya hanya tahu satu hal, dan hal ini diajarkan di bangku sekolah. UUD 1945

BAB XIV
KESEJAHTERAAN SOSIAL

Pasal 33


(1)    Perekonomian disusun sebagai usaha bersama berdasar atas asas kekeluargaan.
(2)    Cabang-cabang produksi yang penting bagi negara dan yang menguasai hajat hidup orang banyak dikuasai oleh negara.
(3)    Bumi dan air dan kekayaan alam yang terkandung di dalamnya dikuasai oleh negara dan dipergunakan untuk sebesar-besar kemakmuran rakyat.


Sudah lupakah Bapak-Bapak yang duduk di pemerintahan dengan ayat-ayat dan pasal-pasal UUD 1945 yang menjadi dasar negara Republik Indonesia itu?
Tags: ,

Jun. 3rd, 2008

Tiga Set Sarapan Pagi yang Komplit and Monthly Planning

Okeh....berdasarkan hasil perbincangan dengan si kakak, kami berdua memutuskan untuk "naik tingkat". Namun, "naik tingkat" yang ini bukan dalam hal yang negatif, melainkan hal yang positif dalam sekolah kehidupan.


***Dimulai di pagi hari...

Pagi hari harus dimulai dengan tiga sarapan komplit, yang mencakup:
1. Sarapan Rohani
-> Suatu keharusan yang tidak boleh dilewatkan, sambil mendengarkan lagu Watermark or Planet Shakers or Hillsong (Praise the Lord by day and by night)
2. Sarapan Otak
-> Bangun pagi, berbenah sebelum jam 6 tepat, sudah duduk manis di depan TV, menonton acara "Perspektif Wimar". Penting buat memperbaharui informasi di otak ini dengan informasi yang terbaru. Ditambah dengan paket koran Tempo yang dibeli di depan kantor seharga IDR 1000,00
3. Sarapan Fisik
-> Normalnya sih sarapan nasi plus susu coklat panas-panas dan makannya ya tetep di depan TV sambil nongkrongin Pak Wimar. Plus, a hot full-cream-coffee di kantor.

***Setiap bulan, pada minggu pertama, kami berdua harus menghabiskan waktu bareng-bareng, pergi makan di suatu tempat setelah pulang gereja. Tapi tetap, berhubung sama-sama pelit, dan sama-sama sibuk dengan urusan keuangan masing-masing (terutama dengan urusan kerja dan kuliah), ditetapkan bayar makan sendiri-sendiri. Lebih adil dan merata.

***Kumpulin perpuluhan setiap awal bulan, pergi ke hero, beli 60 kotak susu Indomilk siap minum, bawa satu setiap hari di tas. Kapan aja, kalo ngeliat salah satu anak jalanan, boleh dikasih. Walaupun sangat melelahkan menggotong-gotong kardus, but sangat menyenangkan. Seperti yang dibilang Om Franky, pelayanan untuk Tuhan Yesus Kristus itu bukan hanya di gereja, dengan menjadi song leader ato Guru Sekolah Minggu, dll, tapi dimana pun, kapan pun, dan sama siapa pun.

***Punya "kotak kecemasan" kami, tempat ngumpulin semua kertas-kertas yang ditulisi dengan pergumulan kami. Ditambah satu catatan dan kesepakatan yang tak tertulis, bahwa setiap masalah yang dimasukkan ke kotak itu berarti sudah ditangani sama Tuhan Yesus, dan ga boleh khawatir lagi. Setiap hari minggu, kotak itu akan dibuka untuk melihat kinerja Tuhan Yesus, dan keajaibanNya.


Live my life to the fullest. Learn everything. See everything in different perspective. Give a smile to every smallest creature. Keep my mood controlled, and be more patient.

May. 29th, 2008

Presiden-Presiden

Hmmm...

Tulisan ini belum selesai. Entah kapan akan diselesaikan ditengah-tengah pekerjaan dengan deadline, tugas kuliah dan persiapan UAS akhir bulan depan, plus project freelance. Sibuk? Sangat.

Diawali dengan ingatan akan serial "Love Story in Harvard," dimana sang hero menolong sang heroine, yang adalah seorang mahasiswi kedokteran, untuk bebas dari tuntutan hukum. Karena sang heroine menolong seseorang dengan pengetahuan medisnya plus belum memiliki sertifikasi praktek kedokteran. Memang orang tersebut berhasil ditolong, namun akibat pemberian pertolongan pertama dilakukan oleh orang yang belum ahli, akhirnya orang tersebut, yang adalah seorang mahasiswa kesenian, mengalami kelumpuhan pada tubuh sebelah kanannya. Sang heroine dinasihati olah saingan sang hero untuk mengakui saja kesalahannya, agar ia dapat kembali melanjutkan kuliahnya. Namun, sang heroine merasa hal itu tidak tepat, karena dia melakukan hal itu secara sadar dan hanya didorong motivasi untuk menolong orang lain. Akhirnya, sang hero berhasil membebaskan sang heroine dengan menggunakan "Good Samaritan Law". Sayang, Good Samaritan Law ini hanya berlaku di USA dan Canada.

Dari situ, pikiran yang bandel ini meloncat ke buku Presiden SBY, "Transforming Indonesia" dan "Indonesia on the Move." Hmm, awalnya saya sangat ingin sekali membeli kedua buku tersebut. Jarang-jarang Presiden Indonesia menulis buku. Jadi, rasanya saya ingin tahu, apa sih yang ingin disampaikan Bapak Presiden. Namun, setelah saya lihat, ternyata buku itu berisi kumpulan pidato Pak Presiden di Luar Negeri. Entah mengapa rasanya jadi kecewa dan tidak tertarik membelinya. Kenapa? Karena selama ini, yang namanya Pidato Presiden itu membuat mengantuk. Maaf sebelumnya, tapi memang itulah kenyataannya. Masih ingat dulu, saat semua stasiun televisi masih memiliki kewajiban untuk menayangkan pidato kenegaraan, atau pidato pertanggungjawaban Presiden kepada MPR/DPR (masa kepemerintahan Pak Soeharto). Sejujurnya, di masa itu, saya masih bocah ingusan, polos dan belum tahu apa-apa, dan merasa hal itu masih terlalu tinggi dan besar untuk pikiran saya yang terbatas pada boneka, orang-orangan, kartun Sailor Moon, Saint Seiya, dll. Namun, sampai sekarang sepertinya tidak ada perubahan. Satu-satunya yang berubah adalah, stasiun televisi swasta memiliki kebebasan untuk menyiarkannya atau tidak. Namun, tetap saja isi pidatonya membosankan, bertele-tele, dan tidak "to-the-point." Dan satu hal lagi, saya benar-benar ingin mendengar pidato seorang Presiden dimana ia sendiri yang menulisnya, tanpa menggunakan perantara Menteri atau pesuruh lainnya, dan terbebas dari embel-embel politik ataupun kepentingan pihak-pihak tertentu. Ingin rasanya saya menilik apa yang ada di pikiran dan perasaan orang yang diangkat sebagai orang nomor satu di sebuah negara? Takut, cemas, was-was, bangga, bingung, dll. Beritahukan kepada saya, apa yang seorang Presiden rasakan! Karena bukan hanya seorang "Rocker juga manusia", Presiden juga manusia kan? Mungkin dengan begitu, orang-orang akan mengerti bagaimana rasanya berada di posisi tersebut. Dan mereka tidak asal meng-klaim bahwa Pemerintah tidak adil, jahat, korupsi, berpihak pada golongan tertentu, dll. Ajak kami melihat dari mata seorang Presiden Indonesia. Mungkin dengan begitu, kami akan terdiam dari segala protes yang ada diujung lidah, dan mulai melakukan sesuatu, tindakan yang kecil untuk menolong anda dan negeri ini. Karena bukankah kebangsaan kita sama, bahasa kita sama, ibu pertiwi kita sama, bumi yang kita pijak sama? Mungkin itu yang saya harapkan dari sebuah buku yang ditulis oleh seorang Presiden.

Dari situ, pikiran yang badung ini meloncat lagi, ke seseorang yang dikenal sebagai "Singa Podium," tahu dungs siapa? Yup, Pak Soekarno. Saya jadi bertanya-tanya, bagaimana seandainya saya hidup di masa itu, namun bukan sebagai bocah ingusan, namun sebagai saya sendiri, yang berumur 22 tahun, dan memiliki persepsi sendiri. Bersediakah saya berdesak-desakan dengan orang lain hanya untuk melihat Bapak Proklamator yang satu itu berpidato? Adakah rekaman pidato (baik audio dan video) yang dapat saya lihat? Mengapa hal seperti itu tidak diajarkan di sekolah-sekolah? Apakah karena masa pemerintahan Soeharto berusaha untuk menghapuskan jejak Soekarno, makanya hal itu tidak diajarkan di sekolah-sekolah? Jadi, hanya sejarah yang baik-baik sajakah yang pantas diajarkan ke bocah-bocah ingusan dengan seragam putih-merah itu? Sejarah sebagaimanapun kelamnya, hendaknya tidak ada satu bagian pun yang ditutup-tutupi. Baik ataupun buruk sejarah itu, satu hal yang perlu diingat, sejarah itu masih tetap bagian dari Indonesia. Timpang rasanya kalau ada bagian yang dicopot atau dihilangkan. Sama seperti puzzle, yang tidak akan lengkap jika ada satu bagiannya yang disembunyikan.

Setelah dicari-cari, ternyata ada website kepustakaan Presiden Republik Indonesia. Bagus sekali. Love it. Hmm, tapi sayang sepertinya koleksinya tidak lengkap, dan hanya ada dalam bentuk tulisan, tidakkah mereka memiliki versi audio dan video dari pidato-pidato tersebut? Ingin rasanya mendengar suara Pak Soekarno di telinga ini. Mungkin suatu hari nanti mereka memiliki koleksinya. Terus, makin dicari, ternyata sudah ada juga orang yang mengumpulkan kepingan pidato Pak Soekarno dan menerbitkan bukunya, judul bukunya " Revolusi Belum Selesai." Menarik. Mungkin buku ini yang akan saya cari dalam perburuan buku saya.

Loncat lagi, ke cerita Mama saya ketika Beliau berkunjung ke Museum Arsip Nasional. Beliau sangat bersemangat sekali bercerita tentang kunjungannya. Matanya bersinar-sinar, terutama saat bagian melihat naskah Proklamasi, dan keheranannya saat rombongannya tidak diizinkan untuk melihat naskah Supersemar. (Miss My Mom mode : ON) Hmm, mungkin Museum Arsip Nasional dapat saya jadikan pilihan dalam "My Next Jakarta Journey" berikutnya. Yatta. Love it. Tapi masih ada satu hal yang mengenaskan mengenai situs Museum Nasional yang tidak pernah mengupdate berita-nya, bahkan berita terbaru yang masih ditunjukkan adalah berita pagelaran Seni dari Itali tahun 2001. Heran, kalender di komputer saya yang salahkah atau kalender mereka yang salah. Karena kalendar di komputer saya jelas-jelas menunjukkan  sekarang sudah tahun 2008. Bagaimana mungkin museum itu dikunjungi oleh keluarga Indonesia kalau beritanya saja tidak ter-update. Menyedihkan.

Dan satu hal lagi yang menyedihkan, entah kapan tulisan ini akan dilengkapi, entah kapan saya akan sempat membaca naskah pidato Pak Soekarno yang saya unduh, saat Content Management Server berputar dengan deadline-nya, project freelance saya menunggu di antrian berikutnya, dan UAS yang sudah tak sabar menyambut saya di pintu gerbang. Just like my-Indian-friend said, I am a busy body, but I love it. Suatu saat nanti saya selesaikan tulisan ini, dan inilah pengingatnya.

May. 22nd, 2008

OOAD vs AnaPerSIs (Del's version vs Binus' version)

Topik hari ini merupakan topik analisis lanjutan dari Class Diagram yang dikembangkan ke dalam bentuk Use Case Diagram, dan akan didetilkan dalam daftar fungsi-fungsi untuk setiap kelas pada Class Diagram.

Hmm, mata kuliah hari ini benar-benar tidak menarik perhatian, karena sebelumnya saya sudah mempelajari Object Oriented Analysis and Design (a.k.a OOAD) di kampus lama, dan di kampus ini, saya kembali bertemu dengan topik mata kuliah yang mirip namun benar-benar berbeda. Sedikit paradoks bukan? Istilah ”mirip namun benar-benar berbeda.” Dikatakan mirip, karena AnaPerSIs dan OOAD sama-sama mengajarkan bagaimana menganalisis suatu sistem dengan paradigma berpikir Object-Oriented. Dikatakan benar-benar berbeda, karena pendekatan analisis yang digunakan pada kedua mata kuliah tersebut bertentangan.

Saat ini, terdapat dua pendekatan analisis Object-Oriented yang digunakan. Salah satu pendekatan analisis Object-Oriented ini menggunakan Use Case Diagram sebagai diagram awal yang mendefinisikan fitur-fitur apa saja yang ada di dalam sistem yang akan dibangun. Setiap Use Case pada Use Case Diagram akan dilengkapi dengan skenario. Use Case Diagram beserta skenario-nya inilah yang akan dijadikan panduan dalam melakukan analisis lebih lanjut, misalnya membuat Class Diagram, Sequence Diagram, dll. Cara pendekatan seperti ini umumnya dijelaskan dalam buku-buku UML terbitan Amerika.

Pendekatan lainnya, tidak menggunakan Use Case Diagram, melainkan menggunakan apa yang disebut dengan Rich Picture. Harap diingat, Rich Picture bukan merupakan bagian dari keluarga Diagram UML. Rich Picture merupakan gambaran non-formal yang menggambarkan pemahaman akan sistem yang saat ini sedang berjalan. Mengapa Rich Picture ini diperlukan? Rich Picture dibuat dengan tujuan memperoleh pengertian akan sistem yang ada sekarang dari sudut pandang user dan menciptakan gambaran detil tentang segala kemungkinan yang dapat terjadi dalam sistem. Pendekatan ini merupakan pendekatan yang umumnya dijelaskan dalam buku-buku UML terbitan Eropa, seperti Object Oriented Analysis & Design, oleh Lars Mathiassen dkk.

Hal ini saya ketahui setelah saya konfirmasikan dengan dosen pengajar. Weleh, pantaslah pola pikir saya ini jadi berantakan dan acakadul. Pendekatan yang dilakukan oleh Mathiassen merupakan pendekatan yang sangat mendasar, sedangkan pendekatan yang lainnya merupakan pendekatan yang umumnya sudah digunakan oleh orang yang sudah berpengalaman.

Okeh, sedikit historinya sudah dijelaskan, namun bukan itu yang penting malam ini. Melainkan malam ini, pak dosen memberikan kami kasus yang sedikit unik, namun umumnya terdapat di banyak perusahaan. Kasus ini merupakan kasus perhitungan diskon. Pada suatu perusahaan, terutama perusahaan obat, ada tiga jenis diskon yang berlaku, antara lain:

  1. Diskon Harga
    1. Untuk pembelian barang, dengan total pembelian > IDR200.000,00 akan mendapat diskon IDR20.000,00
    2. Untuk pembelian barang, dengan total pembelian > IDR500.000,00 akan mendapat diskon IDR50.000,00
    3. Untuk pembelian barang, dengan total pembelian > IDR1000.000,00 akan mendapat diskon IDR120.000,00
  2. Diskon Jumlah Barang
    1. Untuk pembelian barang, dengan jumlah barang > 50 kotak akan mendapat diskon barang tambahan 1 kotak
    2. Untuk pembelian barang, dengan jumlah barang > 100 kotak akan mendapat diskon barang tambahan 2 kotak
    3. Untuk pembelian barang, dengan jumlah barang > 500 kotak akan mendapat diskon barang tambahan 15 kotak
  3. Diskon Persen Harga Barang
    1. Untuk pembelian barang dengan nama A, maka harga per kotak barang tersebut akan didiskon 4.5%
    2. Untuk pembelian barang dengan nama B, maka harga per kotak barang tersebut akan didiskon 2.5%
    3. Untuk pembelian barang dengan nama C, maka harga per kotak barang tersebut akan didiskon 6%

Ketiga jenis diskon ini dapat berlaku sekaligus pada sebuah pembelian, dan setiap akhir bulan akan dilakukan perubahan diskon apa yang berlaku sepanjang bulan berikutnya.

Hmm..kasus ini sangat menarik. Pak dosen meminta kami untuk membuat class diagram yang dilengkapi dengan daftar atribut dan fungsi untuk setiap kelas. Dan inilah solusi yang saya ajukan…(sebagai PR—Public Relations dari kelompok, untuk maju dan menuliskannya ke papan tulis)




Hmm..dengan menggunakan cara tersebut, dimungkinkan untuk meng-update jenis diskon secara independen. Setiap bulan, yang perlu dilakukan hanyalah menentukan jenis diskon manakah yang akan digunakan. Dan secara otomatis jenis diskon tersebut akan diterapkan dalam setiap order yang terjadi (sesuai dengan tanggal terjadinya order). Dengan demikian, dapat pula ditelusuri diskon untuk setiap jumlah total harga order untuk bulan-bulan sebelumnya. Yatta....

( ^ _ ^ ) V

Dan akhirnya kami bisa pulang cepat malam ini :-) (walaupun tidak secepat yang diharapkan). Woo, Imel saves the nite…

May. 15th, 2008

Brain Drain vs Brain Gain a.k.a Asianisation vs Westernisation

Berawal dari sini...

Dear all,
Sekedar melengkapi perang pena (mungkin istilahnya sekarang harus diganti perang email) soal to be or not to be Indonesian dan membangun negeri dari dalam atau dari luar, hal-hal ini memang akan terus menjadi dilema, terutama bagi kita yang punya kesempatan untuk melihat dunia di luar Indonesia.

Teori brain drain memang ada benarnya. Secara kasat mata negara seperti Australia dan Kanada memperoleh tambahan devisa yang sangat besar dari menerima migran resmi seperti saya. Seorang calon migran membayar lebih dari 2000$ dan menginvestasikan minimal 10000$ yang tentunya diambil dari aset mereka di negara asal. Hampir tidak mungkin seorang migran tidak berpendidikan yang artinya dia punya posisi cukup penting di negaranya.

Ambil contoh saya seorang dosen dan staf LSM spesifikasi bidang konflik dan bencana. Kepergian saya jelas merugikan institusi tempat saya mengajar dan saya tahu saya bisa memberi kontribusi cukup besar untuk industri dan bisnis konflik dan bencana di Indonesia (tolong berhenti berpikir bahwa bidang LSM adalah bidang sosial tanpa pamrih, karena pada kenyataannya itu adalah bisnis bernilai jutaan dolar).

Tapi apakah Indonesia tidak memperoleh keuntungan ketika saya di luar negeri? Dalam kurun waktu 8 tahun saya tinggal di luar negeri, saya pernah jadi guru tari di KBRI Melbourne, Phnom Penh dan Madrid, pernah mempromosikan kesenian Indonesia di lebih dari 12 negara. Selama 3 tahun saya di Melbourne saya sudah melakukan lebih dari 300 workshop kesenian Indonesia (meliputi memperkenalkan angkllung, gamelan, wayang, seni membatik, tarian tradisional, bahasa, kehidupan agrikultur dst) ke ratusan sekolah di negara bagian NSW dan Victoria), sehingga anak2 Australia tahu bahwa Indonesia is not just Bali. Ketika saya melakukan riset bersama Ford Foundation di Cina, koran dan televisi Cina mewawancara saya dan mereka sangat heran karena ada orang Indonesia totok fasih berbahasa Cina. Akhirnya nama Indonesianya kog yang dikenal orang karena bolak-balik dikenali orang 'oh kamu khan orang Indonesia yang bikin penelitian itu khan?' Jadi kalau ada orang mengatakan membangun dan mengharumkan nama Indonesia tidak bisa dari luar, saya akan katakan, siapa bilang? Tolong anda mensurvey dahulu sebelum berucap.

Apakah nasionalisme seseorang merosot ketika tinggal di luar negeri? ya dan tidak. Banyak orang Indonesia keluar dari Indonesia karena frustrasi dan kecewa dengan Indonesia dan itu tidak bisa disalahkan. Semakin sering saya keluar negeri semakin saya anti pemerintah Indonesia dan menyadari betapa brengseknya pemerintah kita, maka sejak dulu saya berikrar tidak akan pernah menjadi wakil pemerintah dalam ajang apapun, tetapi itu tidak berarti saya tidak punya nasionalisme karena kemanapun saya pergi, saya membawa budaya saya. Separuh isi koper saya adalah baju tari yang selalu ikut kemanapun saya pergi. Makanya saya tidak pernah mencat rambut, pakai kontak lens warna biru, pakai dasipun tidak, karena pakaian resmi saya adalah batik. Pemerintah mau berbuat apa, itu bukan urusan saya, yang menjadi beban saya adalah mempertahankan eksistensi seni pertunjukan Indonesia dan perbaikan kualitas pendidikan anak bangsa. Itulah kenapa meski sering di caci maki di milis ini saya tetap sering menulis email karena saya tau milis ini banyak diakses oleh mereka yang berpendidikan yang harusnya menjadi soko guru tatanan berbangsa.

Soal brain drain dan brain gain, mari kita belajar dari Cina dan India. Sama seperti Indonesia, India pernah galau karena banyak sekali warga negara berpendidikannya yang keluar negeri, padahal secara kasat mata mereka lebih miskin dari Indonesia (tapi mereka tidak punya hutang luar negeri lho). Tapi India mengakui bahwa dengan kenyataan bahwa 60% dokter di Kanada dan Amerika dan sebagian besar orang IT di Australia adalah keturunan India, hal ini sangat memicu berkembangnya ilmu medis di negaranya (harap dicatat bahwa jarang sekali orang India mengikuti ujian penyetaraan medical di Amerika tidak lulus). Filipina pun maju dengan mengadopsi standar internasional untuk pendidikan keperawatan sehingga perawat2 Filipina diterima di seluruh dunia.

Cina sendiri sangat bangga dengan kenyataan bahwa dua orang walikota Australia (mungkin sekarang sudah ganti) adalah orang Cina (mereka tidak bilang warga negara Aussie lho, dibilang orang Cina karena lahir di Cina). Cina malah mendukung warga negaranya untuk expansi keluar, menetap di luar karena masyarakat CIna punya 'sense of business' yang kuat sehingga ketika mereka berada di luar mereka akan mencari jalan untuk mengembangkan bisnis dengan kerabatnya di Cina daratan. Perginya warga Cina artinya juga mengurangi beban pemerintah untuk mengurus para manula karena aturan keimigrasian biasanya mengijinkan imigran untuk membawa orang tua mereka.

Ketika saya masih aktif mensurvey program2 LSM tempat saya kerja dulu di lapangan, yg menjadi kendala untuk peningkatan ekonomi masyarakat kecil adalah distribusi dan pemasaran. Indonesia tidak punya link yang kuat di luar negeri sehingga produk kita tidak bisa berkibar di pasaran internasional. Usaha garmen India, periasan emas dan industri film Bollywoodnya tidak akan maju kalau tidak ada migran2 mereka di negara asing. Siapa penguasa garmen dan pertelevisian Indonesia? Bahkan sampai ke Afrika Selatan, Ethiopia, Qatar dan Uganda, bisnis garmen dan perhiasan sangat dikuasai masyarakat India. Keberadaan migran di luar negeri juga membuka bisnis makanan, makanya kemanapun kita pergi (sampai saya pernah ke kota kecil di pelosok Luxembourg) itu ada restoran Cina. Sama halnya dengan India dan belakangan ini juga diikuti oleh Jepang dan Korea.

Apakah nasionalisme para migran ini rendah? Nyatanya tidak. Kemanapun kita pergi akan bertemu orang India mengenakan sari. Ini yang membedakan India dan Indonesia. Kolonial Inggris mengajarkan masyarakat India untuk bangga dengan budaya mereka sendiri tetapi kolonial Belanda tidak. Saya sudah mengamati bahwa nasionalisme masyarakat yang jauh dari kampung halamannya itu biasanya lebih tinggi,kepedulian mereka terhadap kebudayaan etnisnya juga lebih tinggi. Itulah kenapa saya justru tidak pernah pentas tari di Indonesia, karena tidak ada yang nonton, sedangkan semua pagelaran tari saya di luar negeri selalu sukses besar (padahal yang nonton sama-sama orang Indonesia). Ketika saya di Belanda banyak bertemu dengan masyarakat keturunan Ambon yang lari dari Indonesia pasca RMS, dan di Cina dengan masyarakat keturunan CIna yang pulang ke Tiongkok pasca PKI. Mereka dan keturunannya (yang tidak pernah menjejakkan kaki di Indonesia) kebanyakan tetap mengidentifikasikan diri sebagai orang Indonesia, tetap punya hasrat untuk bisa pulang. Kalau masyarakat yang pernah disakiti dan dibuang oleh Indonesia masih punya rasa nasionalisme, kenapa orang-orang yang mau migrasi masih dicerca tidak nasionalis?

Saya punya kepercayaan, ketika seorang Asia meninggalkan kampung halaman dan negeri, dia tidak akan pernah memutuskan ikatan batinnya dengan tanah kelahirannya (duh saya nulisnya sampai nangis nich). Masyarakat Asia punya rasa persaudaraan dan keterikatan kekeluargaan yang sangat tinggi dan struktur masyarakatnya menganut social security network. Semua orang Asia berada dalam suatu 'kutuk' bahwa mereka terbeban untuk mendukung keluarganya. Sehingga kemanapun mereka pergi, mereka akan mengirimkan uang
kembali ke tanah airnya, berusaha meningkatkan kesejahteraan kelluarga besarnya dst. Sedurhaka apapun orang Asia saya yakin akan berusaha menolong saudaranya. Ada saudara saya yang tinggal di spanyol akhirnya berhasil membuka usaha expor impor mebel menghidupi lebih dari 20 keluarga, meningkatkan bisnis keluarga dst.

Pemerintah kita sering mengeluh derasnya arus westernisasi di Indonesia melalu film, MTV dst. Padahal Asia adalah etnis terbesar di dunia (yang sayangnya juga menyumbang jumlah masyarakat miskin terbesar juga). Ada tiga kekuatan besar di Asia: Cina, India dan Indonesia yang dikenal dengan Naga dari timur, gajah dari selatan dan Garuda dari tenggara (yang belakang pasti belum pada dengar). Cina dan India sebenarnya melakukan Asianisasi dunia. Implementasi dan ekspansi budaya dapat dilakukan dengan berbagai cara. Suku
Hutu di Rwanda melakukannya dengan pembunuhan masal suku Tutsi, etnis Serbia melakukan forced pregnancy melalui perkosaan masal terhadap suku Bosnia. Amerika melakukan westernisasi melalui film, fast food culture, dst. India dan Cina juga melakukan hal yang sama melalui bantuan para migrannya, dengan mendirikan restoran, industri dan hiburan asli mereka. Sekarang siapa sich yang belum pernah makan makanan Cina? di semua kota besar di dunia ada Chinatown. Budaya minum teh Cina, akkupuntur, beef curry, yoga, taichi menjadi akrab di masyarakat barat. Ini adalah bagian dari Asianisasi budaya mereka di barat. Sayangnya Indonesia belum seprogresif India dan Cina, padahal pencak silat itu sangat diminati, musik gamelan adalah musik tradisional asia paling diminati di Melbourne (disana ada lebih dari 13 group gamelan lho, sayangnya orang Indonesianya tidak sampai 5 orang), batik Indonesia dianggap paling tinggi kualitasnya di Kamboja, jauh diatas batik Malaysia, Singapura dan Vietnam Naga dari timur dan Gajah dari selatan sekarang sudah menjadi kekuatan yang dipandang dan ditakuti di barat. Banyak sekali orang Indiia dan Cina bisa berbahasa Inggris tapi hampir tidak ada orang kulit putih bisa berbahasa Cina dan Hindi. Hampir seluruh produk yang beredar di barat adalah buatan Cina. (sampai ada joke, anak2 barat sekarang mengira St Claus yang dermawan itu sudah pindah dari kutub utara ke Cina, soalnya hadiahnya buatan cina semua).

Pertanyaan saya sekarang, kapankah sang Garuda dari Asia akan mulai mengembangkan sayapnya dan mulai terbang? Kog sampai sekarang masih sibuk mengurusi kutu-kutu di dalam sarangnya?

Dilanjutkan...


Dear Mas atau mbak Anggiet (maaf karena saya tidak tahu bukan karena hal lain),
Saya mengikuti perang email (meminjam istilah anda) anda dengan rekan rekan anggota milis ini sangat seru sekali. Saya setuju sekali dengan prinsip anda. Saya tidak pro maupun kontra bukan karena saya tidak berpendirian tapi karena senang dan terbiasa menghargai perbedaan pendapat yang menurut saya selalu memperkaya khasanah wawasan saya. Saya juga memiliki pendapat sendiri. Terus terang pada saat saya mulai menjadi aktifis organisasi saya hidup di jaman diktator Soeharto berkuasa (banyak pengalaman pahit dengan aparat) dan banyak melihat "ketidakberesan" oknum pejabat (tolong pakai kata oknum karena tidak tidak semua pejabat menyimpang loh, lebih banyak yang lurus seperti Baharuddin Lopa dan masih banyak lagi). Tapi karena saya cinta negara dan bangsa maka saya mengambil langkah yang bertentangan dengan anda. Setelah kenyang menegakkan demokrasi jalanan maka saya memutuskan untuk menjadi bagian dari aparat negara dengan tekad ikut berpartisipasi merubah dari dalam.
Menurut saya ini langkah yang lebih sulit. Bayangkan dengan penghasilan yang pas pasan berusaha menghindarkan godaan KKN sambil mengajak yang lain agar mau bergandeng tangan merubah sistem yang sudah "berkarat" (karena sudah membudaya). Saya tahu ini terdengar nonsense tapi saya yakin bahwa saya tidak sendiri.
Sangat penting ada yang berjuang mengharumkan nama bangsa dari luar negeri seperti anda dan teman teman yang beruntung bisa merasakan kemakmuran luar negeri. Sangat penting juga ada yang merubah Indonesia yang sama sama kita cintai dari dalam, baik sebagai aparat maupun LSM dan swasta. Tapi yang lebih penting menurut saya bukan saling menyudutkan dengan perang email tapi justru dengan saling bertukar pikiran, saling bergandengan tangan dan melakukan tindakan nyata guna merubah negara dan bangsa yang kita cintai menjadi sebaik negara dan bangsa lain yang ada di luar negeri yang pernah anda diami.
Alangkah indahnya kalau kemakmuran yang anda dan teman teman ceritakan tadi bukan lagi Kanada, bukan lagi AS, bukan lagi Singapura, bukan lagi Cina, bukan lagi India tapi Indonesia Raya tempat kita lahir dan dibesarkan. Kalau bukan untuk kita sekarang maka itu untuk kita hadiahkan kepada anak, cucu dan seluruh generasi penerus kita.
Mari kita simak himbauan dari Presiden India kepada rakyatnya di bawah ini yang menurut saya juga pantas untuk kita bangsa Indonesia.

The President of India DR. A. P. J. Abdul Kalam 's Speech in Hyderabad . *

Got 10 minutes for Our country? If yes, then read; otherwise, choice is yours.?

Why are we in India so embarrassed to recognize our own strengths, our achievements? We are such a great nation. We have so many amazing success stories but we refuse to acknowledge them. Why?
We are the first in milk production.
We are number one in Remote sensing satellites.
We are the second largest producer of wheat.
We are the second largest producer of rice.

Look at Dr. Sudarshan , he has transferred the tribal village into a self-sustaining, self-driving unit. There are millions of such achievements but our media is only obsessed in the bad news and failures and disasters. I was in Tel Aviv once and I was reading the Israeli newspaper. It was the day after a lot of attacks and bombardments and deaths had taken place. The Hamas had struck. But the front page of the newspaper had the picture of a Jewish gentleman who in five years had transformed his desert into an orchid and a granary. It was this inspiring picture that everyone woke up to. The gory details of killings, bombardments, deaths, were inside in the newspaper, buried among other news.

In India we only read about death, sickness, terrorism, crime. Why are we so NEGATIVE? Another question: Why are we, as a nation so obsessed with foreign things? We want foreign T. Vs, we want foreign shirts. We want foreign technology.

Why this obsession with everything imported. Do we not realize that self-respect comes with self-reliance? I was in Hyderabad giving this lecture, when a 14 year old girl asked me for my autograph. I asked her what her goal in life is. She replied: I want to live in a developed India . For her, you and I will have to build this developed India . You must proclaim. India is not an under-developed nation; it is a highly developed nation. Do you have 10 minutes? Allow me to come back with a vengeance.
Got 10 minutes for your country? If yes, then read; otherwise, choice is yours.

YOU say that our government is inefficient.
YOU say that our laws are too old.
YOU say that the municipality does not pick up the garbage.
YOU say that the phones don't work, the railways are a joke,
The airline is the worst in the world, mails never reach their destination. YOU say that our country has been fed to the dogs and is the absolute pits.
YOU say, say and say. What do YOU do about it? Take a person on his way to Singapore . Give him a name - YOURS. Give him a face - YOURS. YOU walk out of the airport and you are at your International best. In Singapore you don't throw cigarette butts on the roads or eat in the stores. YOU are as proud of their Underground links as they are. You pay $5 (approx. Rs. 60) to drive through Orchard Road (equivalent of Mahim Causeway or Pedder Road) between 5 PM and 8 PM. YOU come back to the parking lot to punch your parking ticket if you have over stayed in a restaurant or a shopping mall irrespective of your status identity... In Singapore you don't say anything, DO YOU? YOU wouldn't dare to eat in public during Ramadan, in Dubai . YOU would not dare to go out without your head covered in Jeddah. YOU would not dare to buy an employee of the telephone exchange in London at 10 pounds ( Rs.650) a month to, 'see to it that my STD and ISD calls are billed to someone else.'YOU would not dare to speed beyond 55 mph (88 km/h) in Washington and then tell the traffic cop, 'Jaanta hai main kaun hoon /Kau tahu aku ini siapa? (Do you know who I am?). I am so and so's son. Take your two bucks and get lost.' YOU wouldn't chuck an empty coconut shell anywhere other than the garbage pail on the beaches in Australia and New Zealand .

Why don't YOU spit Paan (sirih) on the streets of Tokyo ? Why don't YOU use examination jockeys or buy fake certificates in Boston ??? We are still talking of the same YOU. YOU who can respect and conform to a foreign system in other countries but cannot in your own. You who will throw papers and cigarettes on the road the moment you touch Indian ground. If you can be an involved and appreciative citizen in an alien country, why cannot you be the same here in India ? Once in an interview, the famous Ex-municipal commissioner of Bombay , Mr. Tinaikar , had a point to make. 'Rich people's dogs are walked on the streets to leave their affluent droppings all over the place,' he said. 'And then the same people turn around to criticize and blame the authorities for inefficiency and dirty pavements. What do they expect the officers to do? Go down with a broom every time their dog feels the pressure in his bowels?

In America every dog owner has to clean up after his pet has done the job.
Same in Japan . Will the Indian citizen do that here?' He's right. We go to the polls to choose a government and after that forfeit all responsibility.

We sit back wanting to be pampered and expect the government to do everything for us whilst our contribution is totally negative. We expect the government to clean up but we are not going to stop chucking garbage all over the place nor are we going to stop to pick a up a stray piece of paper and throw it in the bin. We expect the railways to provide clean bathrooms but we are not going to learn the proper use of bathrooms. We want Indian Airlines and Air India to provide the best of food and toiletries but we are not going to stop pilfering at the least opportunity.

This applies even to the staff who is known not to pass on the service to the public. When it comes to burning social issues like those related to women, dowry, girl child! and others, we make loud drawing room protestations and continue to do the reverse at home. Our excuse? 'It's the whole system which has to change, how will it matter if I alone forego my sons' rights to a dowry.' So who's going to change the system?

What does a system consist of ? Very conveniently for us it consists of our neighbours, other households, other cities, other communities and the government. But definitely not me and YOU. When it comes to us actually making a positive contribution to the system we lock ourselves along with our families into a safe cocoon and look into the distance at countries far away and wait for a Mr.Clean to come along & work miracles for us with a majestic sweep of his hand or we leave the country and run away.

Like lazy cowards hounded by our fears we run to America to bask in their glory and praise their system. When New York becomes insecure we run to England . When England experiences unemployment, we take the next flight out to the Gulf. When the Gulf is war struck, we demand to be rescued and brought home by the Indian government. Everybody is out to abuse and rape the country. Nobody thinks of feeding the system. Our conscience is mortgaged to money.

Dear Indians, The article is highly thought inductive, calls for a great deal of introspection and pricks one's conscience too.... I am echoing J. F. Kennedy 's words to his fellow Americans to relate to Indians.....

'ASK WHAT WE CAN DO FOR INDIA AND DO WHAT HAS TO BE DONE TO MAKE INDIA WHAT AMERICA AND OTHER WESTERN COUNTRIES ARE TODAY'
Lets do what India needs from us.

Forward this mail to each Indian for a change instead of sending Jokes or junk mails.

Thank you,
Dr. Abdul Kalaam



Dan ini yang saya pikir,

Wuah..sepertinya ini topik yang sangat menarik, dan merupakan "hot topic" yang sangat menarik untuk dibahas. Boleh nimbrung dungs...

Sebelumnya saya salut dengan Anggiet yang berjuang untuk memperbaiki citra Indonesia dari luar negeri, juga dengan Mas Johan yang memutuskan untuk terjun langsung ke dalam pemerintahan. Intinya adalah untuk memperbaiki negara kita sangat-sangat tidak mudah. Karena ini adalah persoalan kepemerintahan yang kompleks dan menyangkut banyak orang. Dan setiap individu, saya percaya hal ini, memiliki peranannya masing-masing (memiliki pilihan) untuk ikut memajukan Bangsa Indonesia atau malah merusak Bangsa Indonesia. Peran kita yang berbeda-beda ini justru akan saling melengkapi nantinya. Terus berjuang ya untuk Anggiet dan Mas Johan, dan yang lain-lain.

Beberapa minggu sebelumnya, saya dan kakak saya melakukan "perbincangan tengah malam" yang biasanya kami lakukan sebelum tidur. Saya katakan kepada kakak saya, "Gimana ya seandainya orang kaya di Indonesia ini bersedia untuk bikin rumah kontrakan, terus orang-orang yang tinggal di kolong jembatan itu dipindahin ke rumah kontrakan itu, dan ndak usah bayar, cukup dirawat rumahnya aja. Jadi yang mereka perlu pikirin adalah bagaimana supaya dapurnya tetap ngebul." Terus hasil perbincangan kami adalah sebagai berikut, kalo memang mau ngurangin jumlah orang miskin, bukan dengan cara memberikan mereka semua fasilitas. "Don't give them fishes, but give them the fish hook. Jangan kasih ama mereka ikannya, tapi berikan sama mereka kail dan pancingnya, biar mereka sendiri yang cari ikannya." Jadi jangan kasih sama mereka makanan, rumah, tapi kasih tuh sama mereka pekerjaan. Dan belum lama ini, saya berkenalan dengan seseorang yang membuka perusahaan IT-nya sendiri, ini berarti orang tersebut sudah membuka lapangan pekerjaan. Dan saya berpikir, wow, dibutuhkan keberanian dan kepercayaan diri, untuk membuka sebuah perusahaan dan berdikari sendiri. Dan terus terang, hal ini tidak pernah diajarkan di bangku kuliah.

Kalau memang mau mengurangi jumlah anak-anak jalanan, jangan kasih mereka uang. Dengan memberikan uang kepada mereka, itu akan membentuk pola pikir mereka, bahwa ternyata sangatlah mudah mendapatkan uang, dengan modal nyanyian dan wajah yang memelas, mereka sudah bisa mendapatkan >10ribu setiap hari. Suatu hari, saya pernah mengajak seorang anak jalanan untuk makan bersama saya. Dari ceritanya, saya tahu bahwa, dia masih sekolah, sekolah di pagi hari dan mengamen mulai dari siang sampai malam (sekitar pukul 9 malam). Kemudian saya berpikir, bagaimana mungkin dia bisa menjadi anak yang pintar dan berprestasi bila sehari-harinya dia tidak pernah belajar, sehari-harinya dihabiskan dibelantara ibu kota yang penuh dengan asap knalpot bis kota. Saya sendiri jadi teringat dengan masa kecil saya, dimana orang tua saya, walaupun kami hidup pas-pasan, selalu menekankan pentingnya belajar, mengawasi kami setiap kali kami belajar dimalam hari. Kemudian saya tanyakan kepadanya kapan dia sediakan waktu untuk belajar. Dikatakannya kadang-kadang saja dia belajar. Saya sedih mendengarnya, dan saya hanya dapat mengatakan bahwa dia harus rajin belajar agar nantinya bisa mendapatkan pekerjaan yang bagus, jadi ga perlu lagi ngamen di jalanan. Hanya hal itulah yang dapat saya lakukan, mengubah cara berpikirnya walaupun hanya dengan kata-kata.

Kemudian kakak saya berkata, "Sadar ga lo dek, kalo, diluar sana, juga banyak orang-orang kaya kita, yang mikir gimana ya biar negara kita jadi lebih baik. Cuman, ya kaya kita gini, fokus kita tuh langsung ke masalah yang besarnya, ya kemiskinan, kebodohan, korupsi, dll. Kenapa kita ndak mikirin dari yang kecil-kecil aja dulu, iya kan? Mulai dari diri sendiri dulu." Dan kakak saya bercerita, tentang temannya yang sudah menghabiskan waktu 5 tahun di Jerman, namun dia kembali ke Indonesia dan berencana untuk membuka sekolah gratis bagi anak-anak jalanan. Langsung saya berkata, "Bilang ya Kak ama temen lo, dah ada calon gurunya satu neh. Tinggal bilang aja kapan mulai sekolahnya."

Mengutip dari buku "the Secret" nih. Kenapa kita terlalu terfokus terhadap "kerusakan-kerusaka n" yang ada di Indonesia. Kenapa kita tidak lebih fokus kepada apa yang kita harapkan untuk terjadi di Indonesia di masa yang akan datang? Dengan berfokus pada apa yang kita harapkan untuk terjadi di Indonesia, kita akan (baik dengan sadar ataupun tidak sadar) akan melakukan segala sesuatu yang membawa Indonesia ke arah yang lebih baik. Tapi sebaliknya, dengan berfokus pada kerusakan yang ada di Indonesia, kita akan berpikir "Weleh, yah memang sudah rusak kok.." Contohnya begini, misalnya ada sampah plastik di jalan, untuk orang yang berfokus kepada Indonesia yang bersih dan asri, maka orang itu dengan sukarela akan merelakan tangannya untuk kotor sedikit, mengambil sampah plastik itu dan membuangnya ke tempat sampah. Tapi, bila kita berfokus kepada "kerusakan Indonesia", kita akan berpikir "Tuh kan bener, sampah dimana-mana. ". Bahkan, saya sendiri pernah melihat, ada orang Indonesia mengeluarkan tangannya dari mobil mewahnya dan "pluk," buang sampah ke jalan, tepat di daerah SCBD, deket BEJ. Ih, ngeselin ga sih tuh orang, pengennya sih buru-buru mungut tuh sampah, dan ngelemparin balik ke dalam mobil mewahnya itu. Percuma kan, punya mobil mewah, tapi etiket membuang sampah yang baik dan benar aja ndak tahu. Hehehe, that's what I think, dan Imel juga percaya kok, sama seperti Cina dan India, Indonesia juga bisa bersaing. SDM Indonesia ndak kalah kok dengan SDM mereka. Negara mana yang anak mudanya bisa menang di Google India Code Jam sampe dua kali berturut-turut? Jawab: Ardian Kristanto Poernomo dari INDONESIA, tapi kenapa pers Singapura yang heboh memberitakan kemenangannya, cuman gara-gara dia itu kuliah di Nanyang University, Singapore. Coba dia kuliahnya di Indonesia. Tapi pernah ndak baca beritanya di koran. Ndak pernah kan? Ndak ada. Bahkan kalo ada pelajar Indonesia yang berhasil meraih medali emas di TOFI, TOKI, Olimpiade yang lain-lain, adakah diberitakan di koran? Ada sih, tapi di halaman yang ke sekian-belas, dan di kolom pojok, dengan huruf judul yang tidak terlalu besar. Dan tahu ndak, profesor termuda di USA (25 tahun) ternyata orang INDONESIA, asli lho kelahiran Medan.

Hmmm...apalagi ya.
Oh iya, baru-baru ini, sepupu saya yang kelas 6 SD mengikuti Ujian Nasional. Dan, tahu ndak apa yang dikatakan guru pengawas ujian kepada mereka sebelum mereka mulai ujian. "Boleh kok nanya2x. Daripada nggak lulus." Weleh, kuping ini sampe panas dengernya. "DARIPADA NGGAK LULUS". Saya tidak habis pikir, bagaimana sosok seorang guru bisa berkata-kata seperti itu. Turun sudah martabat guru di mata saya. Kontan, saya dan kakak saya menasihati sepupu kami untuk mengerjakan ujiannya sendiri dengan jujur, jangan bertanya pada teman dan jangan memberitahu jawaban pada teman. Bahkan murid SMU kakak saya, menceritakan bagaimana teman-temannya satu kelas mengumpulkan uang sampai belasan juta rupiah kepada guru, dan guru itu akan menghubungi seseorang di "dalam", untuk mendapatkan soal. Lalu guru itu akan membahas dan memberikan jawaban soal kepada siswanya. Dan murid kakak saya mengatakan "Iya sih kak, itu ga baik, tapi kan aku pengen lulus. Lagian MAMAku juga bilang yang penting LULUS." WHAT...THIS IS A COMPLETE INSANITY. Maksud Imel gini loch, saya percaya, pejabat pemerintah tidak seenaknya menentukan nilai batas kelulusan. Ada tujuan baik dibalik itu semua. Tujuannya adalah untuk meningkatkan kualitas SDM, mempersiapkan angkatan muda yang lebih baik dari mereka, bahkan kalau bisa lebih baik dari kita sekarang ini. Namun, kenapa hal ini tidak ditanggapi dengan positif oleh semua pihak. Mama saya sering bercerita kalau dahulu, waktu mereka bersekolah, mereka tidak menggunakan buku, melainkan batu tulis. Yang setelah ditulis, harus dihapus, kemudian ditulisi lagi, dst. Mereka saja bisa lulus dengan nilai yang sudah ditetapkan pada zaman itu, jadi kenapa anak-anak sekarang merasa tidak yakin dengan kemampuan mereka, padahal mereka sudah dilengkapi dengan buku tulis dengan berbagai pilihan.

Jika ada nilai yang ingin ditanamkan oleh orang tua kepada seorang anak, itu adalah rasa percaya diri, keberanian untuk bertanggung jawab, dan kemampuan untuk menantang diri sendiri. Mama saya sering bilang, "Kalau bisa lulus dengan nilai 90, kenapa harus mau dapet nilai 80? Padahal tinggal menambah kerja keras sedikit lagi buat dapet 90." Frankly speaking, I feel so proud with my mom because she taught me to challenge myself, to reach beyond my limit. Kenapa anak-anak Indonesia sekarang tidak memiliki kepercayaan diri dan rasa hormat terhadap diri sendiri yang sama? Dimana letak kebanggaannya untuk lulus dari sekolah dengan nilai selisih 0,01 dari batas kelulusan? Saya percaya, pejuang Indonesia yang sekarang terbaring terdiam di Makam Pahlawan Kalibata sana, tidak berjuang untuk generasi penerus yang "cacingan" dan "keok" seperti itu. Dimana keberanian dan harga diri bangsa yang dulu berjuang, sambil mengangkat bambu runcing dan berteriak "merdeka atau mati"? Hehehe,
kalau boleh nih, Imel berpesan buat yang udah punya anak, to teach your children carefully, teach them pride and confidence, teach them to work hard, to reach for the best, and challenge their limit.

And for everyone. Mari kita perbaiki bangsa ini, dan tidak ada cara "instant" untuk melakukan hal ini. Hanya dapat dilakukan "slowly but sure", dimulai dengan diri kita sendiri, starts by doing a small thing for this beautiful but worn out country. Mungkin bukan pada masa kita, sang Garuda dari Asia akan bangkit, mungkin pada masa anak-anak anda dan saya nantinya, baru Garuda dari Asia itu akan bangkit dan terbang membumbung tinggi.

Hehehe, senangnya bisa berdiskusi seperti ini...
V ( ^ _ ^ ) V
Cheers,

Ternyata masih ada kelanjutannya....oleh si "ikangabusku"

great opinion....

btw.....
pernah aktif  di comunity development?

Kemudian dilanjutkan lagi..oleh saya tentunya.. tertanggal 27 Mei 2008

Allow...

Hmm..bingung neh manggilnya apa?

Mas/Mbak,

Community Development itu apa ya? Tentang apa dan ngapain aza?
Terus kalo mo daftar gimana?
Sori ya kalo saya agak ketinggalan jaman, and ga up-to-date infonya..

Okeh..
Arigato gozaimasu.
Looking forward to hear from you.

Namun, belum dibalas juga...hmmmm...
Mungkin harus dicari sendiri apa itu community development

Diskusi Pertama

Hehehehe,

Banyak cara untuk mengubah cara berpikir seseorang. Salah satunya adalah melalui fasilitas yang disediakan oleh dunia maya, a.k.a Internet. Dan, Internet pula yang membawa saya berkenalan dan mengobrol dengan orang ini. Hmmm, benar-benar diskusi yang seru. Dia mengajarkan kepada saya pentingnya cara berpikir yang baik dan benar, berpikir berdasarkan rasional dan runut, agar nantinya dari ilmu yang diperoleh dari hasil pemikiran itu dapat dijabarkan dengan baik dan benar, yang pada akhirnya akan membawa orang (yang membaca tulisan hasil pemikiran tersebut) kepada perspektif baru.

Mulai dari topik kuliah, umumnya, mahasiswa sekarang ini, memisah-misahkan mata kuliah. Setiap mata kuliah merupakan suatu ilmu yang independen, berdiri sendiri. Padahal, penyusun kurikulum mata kuliah tersebut yang nyatanya orang-orang pintar sudah memformulasikan sedemikian rupa runutan mata kuliah yang akan diajarkan pada setiap semester, agar saling mendukung, satu mata kuliah dengan mata kuliah yang lainnya. Itu menurutnya, ternyata selama ini saya sudah melakukannya walaupun secara tidak sadar. :)
Saat saya menggabungkan konsep "Open Vendor Policy" untuk satu studi kasus pada mata kuliah IT Valuation. Studi kasus dimana sebuah perusahaan percetakan sedang melakukan analisa peluang dan tantangan terhadap Porter's 5 Forces Model di tengah dunia bisnis yang sering berubah-ubah.

Dia juga menekankan betapa pentingnya untuk membuat "bukti" terhadap pengetahuan apa yang telah kita peroleh selama kita duduk di bangku kuliah. Disini, dia menekankan pentingnya menulis apa yang sudah kita ketahui, dan dia juga mengatakan bahwa tulisan tersebut dapat berupa ringkasan dari apa yang kita pelajari, atau bahkan buah pikiran kita, saat kita telah berada di posisi mengetahui sesuatu. Walaupun buah pikiran kita itu masih sesuatu yang mentah, namun pada akhirnya seiring dengan bertambahnya pengetahuan kita, buah pikiran kita itu akan dapat disempurnakan. "Itulah enaknya jadi mahasiswa", katanya. Dan dia menyemangati saya, untuk menulis apa yang sudah saya ketahui dalam bentuk tulisan, dan berbahasa Indonesia. Ketika saya tanyakan mengapa harus ditulis dalam Bahasa Indonesia, dia justru balik bertanya kepada saya, dari tulisan saya, mana yang lebih saya inginkan, agar orang Indonesia yang mendapat ilmu saya, atau justru orang luar yang mendapat ilmu saya. Well, bagi saya sendiri, sesuatu yang disebut pengetahuan merupakan sesuatu yang sudah melewati batas ras, negara, agama, dll. (Human Knowledge Belongs to the World -- AntiTrust movie)  Namun, jujur saya katakan, tentu saja saya lebih senang bila saya bisa memberitahukan ilmu saya itu kepada bangsa sendiri. Dia mencontohkan Bangsa Jepang, yang memiliki ilmu dalam bahasa mereka sendiri, Bahasa Jepang, plus dengan tulisan kanji (Hiragana dan Katakana) mereka sendiri. Ini bukan masalah membatasi penyebaran pengetahuan, namun masalah "knowledge preservation". Masa sekarang ini, dapat dikatakan negara yang punya pengetahuan memiliki peluang untuk menjadi negara maju. Lagipula, "wong ada bahasa sendiri, ngapain pake bahasa orang lain. Biasakanlah untuk bangga berbahasa Indonesia." Okay, opini diterima. :)

Ternyata, kami berdua adalah "cacing buku mania." Hehehe, dan kami berbicara mengenai banyak buku. Buku yang paling tidak suka dibaca adalah buku fiksi, tidak menambah ilmu. Hmm, saya tidak setuju dengannya, melalui buku fiksi, saya bisa berpetualang ke dalam dunia yang berbeda, sebuah dunia dimana apa saja bisa terjadi. Segala sesuatu yang tidak pernah terpikirkan oleh seseorang ternyata sudah lahir dalam pemikiran orang lain. Dikatakannya, imajinasi memang adalah hal yang penting, namun jangan sampai imajinasi itu membuat kita tidak bisa membedakan dunia nyata. Dia juga membaca buku "Dunia Sophie" yang sangat filosofis itu, dan kami benar-benar tidak menduga akhir ceritanya akan seperti itu.

Jadi, berdasarkan hasil diskusi, saya memutuskan, untuk mulai mendokumentasikan pemikiran saya, dan dalam Bahasa Indonesia.
Yay, thank you, pal...ups, I mean, terima kasih banyak,
for my pal chat...

( ^ _ ^ ) V
Cheers,

May. 12th, 2008

Writer's Block: Pick an era, any era

If you had to pick a time period to live in, which would you choose? Why?
I want to live in the period when Ancient Greece Civilization still exist. I wanna sit near to the Socrates or Plato's feet. Listening to all their wisdom's words. But I wonder, if women was allowed to went to school that time. Hmmmm....I want to...

Or, maybe back to the time, when my Great Lord still lived on earth, breathed the air just like me, I want to step on his foot prints, listening to His voices, His comforting words, sit so close to Him. Seeing him crossing the ocean with small wooden-boat, with His-messy hair, His white-dusty robe, and His dirty feet.
Hmm, even if its in my imagination, I feel so relieved. I want to be with my Jesus forever. Feel so tired live in this world. Just want to be with him.

Previous 10