Berawal dari sini... Dear all,
Sekedar melengkapi perang pena (mungkin istilahnya sekarang harus diganti perang email) soal to be or not to be Indonesian dan membangun negeri dari dalam atau dari luar, hal-hal ini memang akan terus menjadi dilema, terutama bagi kita yang punya kesempatan untuk melihat dunia di luar Indonesia.
Teori brain drain memang ada benarnya. Secara kasat mata negara seperti Australia dan Kanada memperoleh tambahan devisa yang sangat besar dari menerima migran resmi seperti saya. Seorang calon migran membayar lebih dari 2000$ dan menginvestasikan minimal 10000$ yang tentunya diambil dari aset mereka di negara asal. Hampir tidak mungkin seorang migran tidak berpendidikan yang artinya dia punya posisi cukup penting di negaranya.
Ambil contoh saya seorang dosen dan staf LSM spesifikasi bidang konflik dan bencana. Kepergian saya jelas merugikan institusi tempat saya mengajar dan saya tahu saya bisa memberi kontribusi cukup besar untuk industri dan bisnis konflik dan bencana di Indonesia (tolong berhenti berpikir bahwa bidang LSM adalah bidang sosial tanpa pamrih, karena pada kenyataannya itu adalah bisnis bernilai jutaan dolar).
Tapi apakah Indonesia tidak memperoleh keuntungan ketika saya di luar negeri? Dalam kurun waktu 8 tahun saya tinggal di luar negeri, saya pernah jadi guru tari di KBRI Melbourne, Phnom Penh dan Madrid, pernah mempromosikan kesenian Indonesia di lebih dari 12 negara. Selama 3 tahun saya di Melbourne saya sudah melakukan lebih dari 300 workshop kesenian Indonesia (meliputi memperkenalkan angkllung, gamelan, wayang, seni membatik, tarian tradisional, bahasa, kehidupan agrikultur dst) ke ratusan sekolah di negara bagian NSW dan Victoria), sehingga anak2 Australia tahu bahwa Indonesia is not just Bali. Ketika saya melakukan riset bersama Ford Foundation di Cina, koran dan televisi Cina mewawancara saya dan mereka sangat heran karena ada orang Indonesia totok fasih berbahasa Cina. Akhirnya nama Indonesianya kog yang dikenal orang karena bolak-balik dikenali orang 'oh kamu khan orang Indonesia yang bikin penelitian itu khan?' Jadi kalau ada orang mengatakan membangun dan mengharumkan nama Indonesia tidak bisa dari luar, saya akan katakan, siapa bilang? Tolong anda mensurvey dahulu sebelum berucap.
Apakah nasionalisme seseorang merosot ketika tinggal di luar negeri? ya dan tidak. Banyak orang Indonesia keluar dari Indonesia karena frustrasi dan kecewa dengan Indonesia dan itu tidak bisa disalahkan. Semakin sering saya keluar negeri semakin saya anti pemerintah Indonesia dan menyadari betapa brengseknya pemerintah kita, maka sejak dulu saya berikrar tidak akan pernah menjadi wakil pemerintah dalam ajang apapun, tetapi itu tidak berarti saya tidak punya nasionalisme karena kemanapun saya pergi, saya membawa budaya saya. Separuh isi koper saya adalah baju tari yang selalu ikut kemanapun saya pergi. Makanya saya tidak pernah mencat rambut, pakai kontak lens warna biru, pakai dasipun tidak, karena pakaian resmi saya adalah batik. Pemerintah mau berbuat apa, itu bukan urusan saya, yang menjadi beban saya adalah mempertahankan eksistensi seni pertunjukan Indonesia dan perbaikan kualitas pendidikan anak bangsa. Itulah kenapa meski sering di caci maki di milis ini saya tetap sering menulis email karena saya tau milis ini banyak diakses oleh mereka yang berpendidikan yang harusnya menjadi soko guru tatanan berbangsa.
Soal brain drain dan brain gain, mari kita belajar dari Cina dan India. Sama seperti Indonesia, India pernah galau karena banyak sekali warga negara berpendidikannya yang keluar negeri, padahal secara kasat mata mereka lebih miskin dari Indonesia (tapi mereka tidak punya hutang luar negeri lho). Tapi India mengakui bahwa dengan kenyataan bahwa 60% dokter di Kanada dan Amerika dan sebagian besar orang IT di Australia adalah keturunan India, hal ini sangat memicu berkembangnya ilmu medis di negaranya (harap dicatat bahwa jarang sekali orang India mengikuti ujian penyetaraan medical di Amerika tidak lulus). Filipina pun maju dengan mengadopsi standar internasional untuk pendidikan keperawatan sehingga perawat2 Filipina diterima di seluruh dunia.
Cina sendiri sangat bangga dengan kenyataan bahwa dua orang walikota Australia (mungkin sekarang sudah ganti) adalah orang Cina (mereka tidak bilang warga negara Aussie lho, dibilang orang Cina karena lahir di Cina). Cina malah mendukung warga negaranya untuk expansi keluar, menetap di luar karena masyarakat CIna punya 'sense of business' yang kuat sehingga ketika mereka berada di luar mereka akan mencari jalan untuk mengembangkan bisnis dengan kerabatnya di Cina daratan. Perginya warga Cina artinya juga mengurangi beban pemerintah untuk mengurus para manula karena aturan keimigrasian biasanya mengijinkan imigran untuk membawa orang tua mereka.
Ketika saya masih aktif mensurvey program2 LSM tempat saya kerja dulu di lapangan, yg menjadi kendala untuk peningkatan ekonomi masyarakat kecil adalah distribusi dan pemasaran. Indonesia tidak punya link yang kuat di luar negeri sehingga produk kita tidak bisa berkibar di pasaran internasional. Usaha garmen India, periasan emas dan industri film Bollywoodnya tidak akan maju kalau tidak ada migran2 mereka di negara asing. Siapa penguasa garmen dan pertelevisian Indonesia? Bahkan sampai ke Afrika Selatan, Ethiopia, Qatar dan Uganda, bisnis garmen dan perhiasan sangat dikuasai masyarakat India. Keberadaan migran di luar negeri juga membuka bisnis makanan, makanya kemanapun kita pergi (sampai saya pernah ke kota kecil di pelosok Luxembourg) itu ada restoran Cina. Sama halnya dengan India dan belakangan ini juga diikuti oleh Jepang dan Korea.
Apakah nasionalisme para migran ini rendah? Nyatanya tidak. Kemanapun kita pergi akan bertemu orang India mengenakan sari. Ini yang membedakan India dan Indonesia. Kolonial Inggris mengajarkan masyarakat India untuk bangga dengan budaya mereka sendiri tetapi kolonial Belanda tidak. Saya sudah mengamati bahwa nasionalisme masyarakat yang jauh dari kampung halamannya itu biasanya lebih tinggi,kepedulian mereka terhadap kebudayaan etnisnya juga lebih tinggi. Itulah kenapa saya justru tidak pernah pentas tari di Indonesia, karena tidak ada yang nonton, sedangkan semua pagelaran tari saya di luar negeri selalu sukses besar (padahal yang nonton sama-sama orang Indonesia). Ketika saya di Belanda banyak bertemu dengan masyarakat keturunan Ambon yang lari dari Indonesia pasca RMS, dan di Cina dengan masyarakat keturunan CIna yang pulang ke Tiongkok pasca PKI. Mereka dan keturunannya (yang tidak pernah menjejakkan kaki di Indonesia) kebanyakan tetap mengidentifikasikan diri sebagai orang Indonesia, tetap punya hasrat untuk bisa pulang. Kalau masyarakat yang pernah disakiti dan dibuang oleh Indonesia masih punya rasa nasionalisme, kenapa orang-orang yang mau migrasi masih dicerca tidak nasionalis?
Saya punya kepercayaan, ketika seorang Asia meninggalkan kampung halaman dan negeri, dia tidak akan pernah memutuskan ikatan batinnya dengan tanah kelahirannya (duh saya nulisnya sampai nangis nich). Masyarakat Asia punya rasa persaudaraan dan keterikatan kekeluargaan yang sangat tinggi dan struktur masyarakatnya menganut social security network. Semua orang Asia berada dalam suatu 'kutuk' bahwa mereka terbeban untuk mendukung keluarganya. Sehingga kemanapun mereka pergi, mereka akan mengirimkan uang
kembali ke tanah airnya, berusaha meningkatkan kesejahteraan kelluarga besarnya dst. Sedurhaka apapun orang Asia saya yakin akan berusaha menolong saudaranya. Ada saudara saya yang tinggal di spanyol akhirnya berhasil membuka usaha expor impor mebel menghidupi lebih dari 20 keluarga, meningkatkan bisnis keluarga dst.
Pemerintah kita sering mengeluh derasnya arus westernisasi di Indonesia melalu film, MTV dst. Padahal Asia adalah etnis terbesar di dunia (yang sayangnya juga menyumbang jumlah masyarakat miskin terbesar juga). Ada tiga kekuatan besar di Asia: Cina, India dan Indonesia yang dikenal dengan Naga dari timur, gajah dari selatan dan Garuda dari tenggara (yang belakang pasti belum pada dengar). Cina dan India sebenarnya melakukan Asianisasi dunia. Implementasi dan ekspansi budaya dapat dilakukan dengan berbagai cara. Suku
Hutu di Rwanda melakukannya dengan pembunuhan masal suku Tutsi, etnis Serbia melakukan forced pregnancy melalui perkosaan masal terhadap suku Bosnia. Amerika melakukan westernisasi melalui film, fast food culture, dst. India dan Cina juga melakukan hal yang sama melalui bantuan para migrannya, dengan mendirikan restoran, industri dan hiburan asli mereka. Sekarang siapa sich yang belum pernah makan makanan Cina? di semua kota besar di dunia ada Chinatown. Budaya minum teh Cina, akkupuntur, beef curry, yoga, taichi menjadi akrab di masyarakat barat. Ini adalah bagian dari Asianisasi budaya mereka di barat. Sayangnya Indonesia belum seprogresif India dan Cina, padahal pencak silat itu sangat diminati, musik gamelan adalah musik tradisional asia paling diminati di Melbourne (disana ada lebih dari 13 group gamelan lho, sayangnya orang Indonesianya tidak sampai 5 orang), batik Indonesia dianggap paling tinggi kualitasnya di Kamboja, jauh diatas batik Malaysia, Singapura dan Vietnam Naga dari timur dan Gajah dari selatan sekarang sudah menjadi kekuatan yang dipandang dan ditakuti di barat. Banyak sekali orang Indiia dan Cina bisa berbahasa Inggris tapi hampir tidak ada orang kulit putih bisa berbahasa Cina dan Hindi. Hampir seluruh produk yang beredar di barat adalah buatan Cina. (sampai ada joke, anak2 barat sekarang mengira St Claus yang dermawan itu sudah pindah dari kutub utara ke Cina, soalnya hadiahnya buatan cina semua).
Pertanyaan saya sekarang, kapankah sang Garuda dari Asia akan mulai mengembangkan sayapnya dan mulai terbang? Kog sampai sekarang masih sibuk mengurusi kutu-kutu di dalam sarangnya?
Dilanjutkan... Dear Mas atau mbak Anggiet (maaf karena saya tidak tahu bukan karena hal lain),
Saya mengikuti perang email (meminjam istilah anda) anda dengan rekan rekan anggota milis ini sangat seru sekali. Saya setuju sekali dengan prinsip anda. Saya tidak pro maupun kontra bukan karena saya tidak berpendirian tapi karena senang dan terbiasa menghargai perbedaan pendapat yang menurut saya selalu memperkaya khasanah wawasan saya. Saya juga memiliki pendapat sendiri. Terus terang pada saat saya mulai menjadi aktifis organisasi saya hidup di jaman diktator Soeharto berkuasa (banyak pengalaman pahit dengan aparat) dan banyak melihat "ketidakberesan" oknum pejabat (tolong pakai kata oknum karena tidak tidak semua pejabat menyimpang loh, lebih banyak yang lurus seperti Baharuddin Lopa dan masih banyak lagi). Tapi karena saya cinta negara dan bangsa maka saya mengambil langkah yang bertentangan dengan anda. Setelah kenyang menegakkan demokrasi jalanan maka saya memutuskan untuk menjadi bagian dari aparat negara dengan tekad ikut berpartisipasi merubah dari dalam.
Menurut saya ini langkah yang lebih sulit. Bayangkan dengan penghasilan yang pas pasan berusaha menghindarkan godaan KKN sambil mengajak yang lain agar mau bergandeng tangan merubah sistem yang sudah "berkarat" (karena sudah membudaya). Saya tahu ini terdengar nonsense tapi saya yakin bahwa saya tidak sendiri.
Sangat penting ada yang berjuang mengharumkan nama bangsa dari luar negeri seperti anda dan teman teman yang beruntung bisa merasakan kemakmuran luar negeri. Sangat penting juga ada yang merubah Indonesia yang sama sama kita cintai dari dalam, baik sebagai aparat maupun LSM dan swasta. Tapi yang lebih penting menurut saya bukan saling menyudutkan dengan perang email tapi justru dengan saling bertukar pikiran, saling bergandengan tangan dan melakukan tindakan nyata guna merubah negara dan bangsa yang kita cintai menjadi sebaik negara dan bangsa lain yang ada di luar negeri yang pernah anda diami.
Alangkah indahnya kalau kemakmuran yang anda dan teman teman ceritakan tadi bukan lagi Kanada, bukan lagi AS, bukan lagi Singapura, bukan lagi Cina, bukan lagi India tapi Indonesia Raya tempat kita lahir dan dibesarkan. Kalau bukan untuk kita sekarang maka itu untuk kita hadiahkan kepada anak, cucu dan seluruh generasi penerus kita.
Mari kita simak himbauan dari Presiden India kepada rakyatnya di bawah ini yang menurut saya juga pantas untuk kita bangsa Indonesia.
The President of India DR. A. P. J. Abdul Kalam 's Speech in Hyderabad . *
Got 10 minutes for Our country? If yes, then read; otherwise, choice is yours.?
Why are we in India so embarrassed to recognize our own strengths, our achievements? We are such a great nation. We have so many amazing success stories but we refuse to acknowledge them. Why?
We are the first in milk production.
We are number one in Remote sensing satellites.
We are the second largest producer of wheat.
We are the second largest producer of rice.
Look at Dr. Sudarshan , he has transferred the tribal village into a self-sustaining, self-driving unit. There are millions of such achievements but our media is only obsessed in the bad news and failures and disasters. I was in Tel Aviv once and I was reading the Israeli newspaper. It was the day after a lot of attacks and bombardments and deaths had taken place. The Hamas had struck. But the front page of the newspaper had the picture of a Jewish gentleman who in five years had transformed his desert into an orchid and a granary. It was this inspiring picture that everyone woke up to. The gory details of killings, bombardments, deaths, were inside in the newspaper, buried among other news.
In India we only read about death, sickness, terrorism, crime. Why are we so NEGATIVE? Another question: Why are we, as a nation so obsessed with foreign things? We want foreign T. Vs, we want foreign shirts. We want foreign technology.
Why this obsession with everything imported. Do we not realize that self-respect comes with self-reliance? I was in Hyderabad giving this lecture, when a 14 year old girl asked me for my autograph. I asked her what her goal in life is. She replied: I want to live in a developed India . For her, you and I will have to build this developed India . You must proclaim. India is not an under-developed nation; it is a highly developed nation. Do you have 10 minutes? Allow me to come back with a vengeance.
Got 10 minutes for your country? If yes, then read; otherwise, choice is yours.
YOU say that our government is inefficient.
YOU say that our laws are too old.
YOU say that the municipality does not pick up the garbage.
YOU say that the phones don't work, the railways are a joke,
The airline is the worst in the world, mails never reach their destination. YOU say that our country has been fed to the dogs and is the absolute pits.
YOU say, say and say. What do YOU do about it? Take a person on his way to Singapore . Give him a name - YOURS. Give him a face - YOURS. YOU walk out of the airport and you are at your International best. In Singapore you don't throw cigarette butts on the roads or eat in the stores. YOU are as proud of their Underground links as they are. You pay $5 (approx. Rs. 60) to drive through Orchard Road (equivalent of Mahim Causeway or Pedder Road) between 5 PM and 8 PM. YOU come back to the parking lot to punch your parking ticket if you have over stayed in a restaurant or a shopping mall irrespective of your status identity... In Singapore you don't say anything, DO YOU? YOU wouldn't dare to eat in public during Ramadan, in Dubai . YOU would not dare to go out without your head covered in Jeddah. YOU would not dare to buy an employee of the telephone exchange in London at 10 pounds ( Rs.650) a month to, 'see to it that my STD and ISD calls are billed to someone else.'YOU would not dare to speed beyond 55 mph (88 km/h) in Washington and then tell the traffic cop, 'Jaanta hai main kaun hoon /Kau tahu aku ini siapa? (Do you know who I am?). I am so and so's son. Take your two bucks and get lost.' YOU wouldn't chuck an empty coconut shell anywhere other than the garbage pail on the beaches in Australia and New Zealand .
Why don't YOU spit Paan (sirih) on the streets of Tokyo ? Why don't YOU use examination jockeys or buy fake certificates in Boston ??? We are still talking of the same YOU. YOU who can respect and conform to a foreign system in other countries but cannot in your own. You who will throw papers and cigarettes on the road the moment you touch Indian ground. If you can be an involved and appreciative citizen in an alien country, why cannot you be the same here in India ? Once in an interview, the famous Ex-municipal commissioner of Bombay , Mr. Tinaikar , had a point to make. 'Rich people's dogs are walked on the streets to leave their affluent droppings all over the place,' he said. 'And then the same people turn around to criticize and blame the authorities for inefficiency and dirty pavements. What do they expect the officers to do? Go down with a broom every time their dog feels the pressure in his bowels?
In America every dog owner has to clean up after his pet has done the job.
Same in Japan . Will the Indian citizen do that here?' He's right. We go to the polls to choose a government and after that forfeit all responsibility.
We sit back wanting to be pampered and expect the government to do everything for us whilst our contribution is totally negative. We expect the government to clean up but we are not going to stop chucking garbage all over the place nor are we going to stop to pick a up a stray piece of paper and throw it in the bin. We expect the railways to provide clean bathrooms but we are not going to learn the proper use of bathrooms. We want Indian Airlines and Air India to provide the best of food and toiletries but we are not going to stop pilfering at the least opportunity.
This applies even to the staff who is known not to pass on the service to the public. When it comes to burning social issues like those related to women, dowry, girl child! and others, we make loud drawing room protestations and continue to do the reverse at home. Our excuse? 'It's the whole system which has to change, how will it matter if I alone forego my sons' rights to a dowry.' So who's going to change the system?
What does a system consist of ? Very conveniently for us it consists of our neighbours, other households, other cities, other communities and the government. But definitely not me and YOU. When it comes to us actually making a positive contribution to the system we lock ourselves along with our families into a safe cocoon and look into the distance at countries far away and wait for a Mr.Clean to come along & work miracles for us with a majestic sweep of his hand or we leave the country and run away.
Like lazy cowards hounded by our fears we run to America to bask in their glory and praise their system. When New York becomes insecure we run to England . When England experiences unemployment, we take the next flight out to the Gulf. When the Gulf is war struck, we demand to be rescued and brought home by the Indian government. Everybody is out to abuse and rape the country. Nobody thinks of feeding the system. Our conscience is mortgaged to money.
Dear Indians, The article is highly thought inductive, calls for a great deal of introspection and pricks one's conscience too.... I am echoing J. F. Kennedy 's words to his fellow Americans to relate to Indians.....
'ASK WHAT WE CAN DO FOR INDIA AND DO WHAT HAS TO BE DONE TO MAKE INDIA WHAT AMERICA AND OTHER WESTERN COUNTRIES ARE TODAY'
Lets do what India needs from us.
Forward this mail to each Indian for a change instead of sending Jokes or junk mails.
Thank you,
Dr. Abdul Kalaam Dan ini yang saya pikir,
Wuah..sepertinya ini topik yang sangat menarik, dan merupakan "hot topic" yang sangat menarik untuk dibahas. Boleh nimbrung dungs...
Sebelumnya saya salut dengan Anggiet yang berjuang untuk memperbaiki citra Indonesia dari luar negeri, juga dengan Mas Johan yang memutuskan untuk terjun langsung ke dalam pemerintahan. Intinya adalah untuk memperbaiki negara kita sangat-sangat tidak mudah. Karena ini adalah persoalan kepemerintahan yang kompleks dan menyangkut banyak orang. Dan setiap individu, saya percaya hal ini, memiliki peranannya masing-masing (memiliki pilihan) untuk ikut memajukan Bangsa Indonesia atau malah merusak Bangsa Indonesia. Peran kita yang berbeda-beda ini justru akan saling melengkapi nantinya. Terus berjuang ya untuk Anggiet dan Mas Johan, dan yang lain-lain.
Beberapa minggu sebelumnya, saya dan kakak saya melakukan "perbincangan tengah malam" yang biasanya kami lakukan sebelum tidur. Saya katakan kepada kakak saya, "Gimana ya seandainya orang kaya di Indonesia ini bersedia untuk bikin rumah kontrakan, terus orang-orang yang tinggal di kolong jembatan itu dipindahin ke rumah kontrakan itu, dan ndak usah bayar, cukup dirawat rumahnya aja. Jadi yang mereka perlu pikirin adalah bagaimana supaya dapurnya tetap ngebul." Terus hasil perbincangan kami adalah sebagai berikut, kalo memang mau ngurangin jumlah orang miskin, bukan dengan cara memberikan mereka semua fasilitas. "Don't give them fishes, but give them the fish hook. Jangan kasih ama mereka ikannya, tapi berikan sama mereka kail dan pancingnya, biar mereka sendiri yang cari ikannya." Jadi jangan kasih sama mereka makanan, rumah, tapi kasih tuh sama mereka pekerjaan. Dan belum lama ini, saya berkenalan dengan seseorang yang membuka perusahaan IT-nya sendiri, ini berarti orang tersebut sudah membuka lapangan pekerjaan. Dan saya berpikir, wow, dibutuhkan keberanian dan kepercayaan diri, untuk membuka sebuah perusahaan dan berdikari sendiri. Dan terus terang, hal ini tidak pernah diajarkan di bangku kuliah.
Kalau memang mau mengurangi jumlah anak-anak jalanan, jangan kasih mereka uang. Dengan memberikan uang kepada mereka, itu akan membentuk pola pikir mereka, bahwa ternyata sangatlah mudah mendapatkan uang, dengan modal nyanyian dan wajah yang memelas, mereka sudah bisa mendapatkan >10ribu setiap hari. Suatu hari, saya pernah mengajak seorang anak jalanan untuk makan bersama saya. Dari ceritanya, saya tahu bahwa, dia masih sekolah, sekolah di pagi hari dan mengamen mulai dari siang sampai malam (sekitar pukul 9 malam). Kemudian saya berpikir, bagaimana mungkin dia bisa menjadi anak yang pintar dan berprestasi bila sehari-harinya dia tidak pernah belajar, sehari-harinya dihabiskan dibelantara ibu kota yang penuh dengan asap knalpot bis kota. Saya sendiri jadi teringat dengan masa kecil saya, dimana orang tua saya, walaupun kami hidup pas-pasan, selalu menekankan pentingnya belajar, mengawasi kami setiap kali kami belajar dimalam hari. Kemudian saya tanyakan kepadanya kapan dia sediakan waktu untuk belajar. Dikatakannya kadang-kadang saja dia belajar. Saya sedih mendengarnya, dan saya hanya dapat mengatakan bahwa dia harus rajin belajar agar nantinya bisa mendapatkan pekerjaan yang bagus, jadi ga perlu lagi ngamen di jalanan. Hanya hal itulah yang dapat saya lakukan, mengubah cara berpikirnya walaupun hanya dengan kata-kata.
Kemudian kakak saya berkata, "Sadar ga lo dek, kalo, diluar sana, juga banyak orang-orang kaya kita, yang mikir gimana ya biar negara kita jadi lebih baik. Cuman, ya kaya kita gini, fokus kita tuh langsung ke masalah yang besarnya, ya kemiskinan, kebodohan, korupsi, dll. Kenapa kita ndak mikirin dari yang kecil-kecil aja dulu, iya kan? Mulai dari diri sendiri dulu." Dan kakak saya bercerita, tentang temannya yang sudah menghabiskan waktu 5 tahun di Jerman, namun dia kembali ke Indonesia dan berencana untuk membuka sekolah gratis bagi anak-anak jalanan. Langsung saya berkata, "Bilang ya Kak ama temen lo, dah ada calon gurunya satu neh. Tinggal bilang aja kapan mulai sekolahnya."
Mengutip dari buku "the Secret" nih. Kenapa kita terlalu terfokus terhadap "kerusakan-kerusaka n" yang ada di Indonesia. Kenapa kita tidak lebih fokus kepada apa yang kita harapkan untuk terjadi di Indonesia di masa yang akan datang? Dengan berfokus pada apa yang kita harapkan untuk terjadi di Indonesia, kita akan (baik dengan sadar ataupun tidak sadar) akan melakukan segala sesuatu yang membawa Indonesia ke arah yang lebih baik. Tapi sebaliknya, dengan berfokus pada kerusakan yang ada di Indonesia, kita akan berpikir "Weleh, yah memang sudah rusak kok.." Contohnya begini, misalnya ada sampah plastik di jalan, untuk orang yang berfokus kepada Indonesia yang bersih dan asri, maka orang itu dengan sukarela akan merelakan tangannya untuk kotor sedikit, mengambil sampah plastik itu dan membuangnya ke tempat sampah. Tapi, bila kita berfokus kepada "kerusakan Indonesia", kita akan berpikir "Tuh kan bener, sampah dimana-mana. ". Bahkan, saya sendiri pernah melihat, ada orang Indonesia mengeluarkan tangannya dari mobil mewahnya dan "pluk," buang sampah ke jalan, tepat di daerah SCBD, deket BEJ. Ih, ngeselin ga sih tuh orang, pengennya sih buru-buru mungut tuh sampah, dan ngelemparin balik ke dalam mobil mewahnya itu. Percuma kan, punya mobil mewah, tapi etiket membuang sampah yang baik dan benar aja ndak tahu. Hehehe, that's what I think, dan Imel juga percaya kok, sama seperti Cina dan India, Indonesia juga bisa bersaing. SDM Indonesia ndak kalah kok dengan SDM mereka. Negara mana yang anak mudanya bisa menang di Google India Code Jam sampe dua kali berturut-turut? Jawab: Ardian Kristanto Poernomo dari INDONESIA, tapi kenapa pers Singapura yang heboh memberitakan kemenangannya, cuman gara-gara dia itu kuliah di Nanyang University, Singapore. Coba dia kuliahnya di Indonesia. Tapi pernah ndak baca beritanya di koran. Ndak pernah kan? Ndak ada. Bahkan kalo ada pelajar Indonesia yang berhasil meraih medali emas di TOFI, TOKI, Olimpiade yang lain-lain, adakah diberitakan di koran? Ada sih, tapi di halaman yang ke sekian-belas, dan di kolom pojok, dengan huruf judul yang tidak terlalu besar. Dan tahu ndak, profesor termuda di USA (25 tahun) ternyata orang INDONESIA, asli lho kelahiran Medan.
Hmmm...apalagi ya.
Oh iya, baru-baru ini, sepupu saya yang kelas 6 SD mengikuti Ujian Nasional. Dan, tahu ndak apa yang dikatakan guru pengawas ujian kepada mereka sebelum mereka mulai ujian. "Boleh kok nanya2x. Daripada nggak lulus." Weleh, kuping ini sampe panas dengernya. "DARIPADA NGGAK LULUS". Saya tidak habis pikir, bagaimana sosok seorang guru bisa berkata-kata seperti itu. Turun sudah martabat guru di mata saya. Kontan, saya dan kakak saya menasihati sepupu kami untuk mengerjakan ujiannya sendiri dengan jujur, jangan bertanya pada teman dan jangan memberitahu jawaban pada teman. Bahkan murid SMU kakak saya, menceritakan bagaimana teman-temannya satu kelas mengumpulkan uang sampai belasan juta rupiah kepada guru, dan guru itu akan menghubungi seseorang di "dalam", untuk mendapatkan soal. Lalu guru itu akan membahas dan memberikan jawaban soal kepada siswanya. Dan murid kakak saya mengatakan "Iya sih kak, itu ga baik, tapi kan aku pengen lulus. Lagian MAMAku juga bilang yang penting LULUS." WHAT...THIS IS A COMPLETE INSANITY. Maksud Imel gini loch, saya percaya, pejabat pemerintah tidak seenaknya menentukan nilai batas kelulusan. Ada tujuan baik dibalik itu semua. Tujuannya adalah untuk meningkatkan kualitas SDM, mempersiapkan angkatan muda yang lebih baik dari mereka, bahkan kalau bisa lebih baik dari kita sekarang ini. Namun, kenapa hal ini tidak ditanggapi dengan positif oleh semua pihak. Mama saya sering bercerita kalau dahulu, waktu mereka bersekolah, mereka tidak menggunakan buku, melainkan batu tulis. Yang setelah ditulis, harus dihapus, kemudian ditulisi lagi, dst. Mereka saja bisa lulus dengan nilai yang sudah ditetapkan pada zaman itu, jadi kenapa anak-anak sekarang merasa tidak yakin dengan kemampuan mereka, padahal mereka sudah dilengkapi dengan buku tulis dengan berbagai pilihan.
Jika ada nilai yang ingin ditanamkan oleh orang tua kepada seorang anak, itu adalah rasa percaya diri, keberanian untuk bertanggung jawab, dan kemampuan untuk menantang diri sendiri. Mama saya sering bilang, "Kalau bisa lulus dengan nilai 90, kenapa harus mau dapet nilai 80? Padahal tinggal menambah kerja keras sedikit lagi buat dapet 90." Frankly speaking, I feel so proud with my mom because she taught me to challenge myself, to reach beyond my limit. Kenapa anak-anak Indonesia sekarang tidak memiliki kepercayaan diri dan rasa hormat terhadap diri sendiri yang sama? Dimana letak kebanggaannya untuk lulus dari sekolah dengan nilai selisih 0,01 dari batas kelulusan? Saya percaya, pejuang Indonesia yang sekarang terbaring terdiam di Makam Pahlawan Kalibata sana, tidak berjuang untuk generasi penerus yang "cacingan" dan "keok" seperti itu. Dimana keberanian dan harga diri bangsa yang dulu berjuang, sambil mengangkat bambu runcing dan berteriak "merdeka atau mati"? Hehehe,
kalau boleh nih, Imel berpesan buat yang udah punya anak, to teach your children carefully, teach them pride and confidence, teach them to work hard, to reach for the best, and challenge their limit.
And for everyone. Mari kita perbaiki bangsa ini, dan tidak ada cara "instant" untuk melakukan hal ini. Hanya dapat dilakukan "slowly but sure", dimulai dengan diri kita sendiri, starts by doing a small thing for this beautiful but worn out country. Mungkin bukan pada masa kita, sang Garuda dari Asia akan bangkit, mungkin pada masa anak-anak anda dan saya nantinya, baru Garuda dari Asia itu akan bangkit dan terbang membumbung tinggi.
Hehehe, senangnya bisa berdiskusi seperti ini...
V ( ^ _ ^ ) V
Cheers,
Ternyata masih ada kelanjutannya....oleh si "ikangabusku"great opinion....
btw.....
pernah aktif di comunity development?
Kemudian dilanjutkan lagi..oleh saya tentunya.. tertanggal 27 Mei 2008Allow...
Hmm..bingung neh manggilnya apa?
Mas/Mbak,
Community Development
itu apa ya? Tentang apa dan ngapain aza?
Terus kalo mo daftar gimana?
Sori ya kalo saya agak ketinggalan jaman, and ga up-to-date infonya..
Okeh..
Arigato gozaimasu.
Looking forward to hear from you.
Namun, belum dibalas juga...hmmmm...
Mungkin harus dicari sendiri apa itu community development